Tampilkan postingan dengan label dokter anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dokter anak. Tampilkan semua postingan
Kamis, 02 Agustus 2012
Tips Memilih Dokter Ideal
JAKARTA, KOMPAS.com — Di film-film, dokter yang buruk dapat dengan mudah dikenali. Umumnya mereka bersikap kaku, ruangan berantakan serta bersikap tidak profesional. Namun di dunia nyata, agak sulit menentukan apakah seorang dokter baik atau buruk.
"Perbedaan antara dokter yang baik dan yang buruk makin samar dan sifatnya personal. Meski lebih sulit mengenalinya, tetap penting untuk mencari perbedaannya," kata George LeMaitre, seorang dokter bedah dan penulis buku How to Choose a Good Doctor.
Dokter yang "buruk" tak selalu memiliki kepribadian yang buruk pula. "Biasanya mereka terlihat buruk karena jam kerja yang panjang, stres, atau bosan dengan pekerjaannya," kata Laurel Schultz, seorang dokter anak.
Bila Anda tidak bisa mengetahui reputasi calon dokter untuk keluarga Anda, tak ada salahnya mengikuti insting. "Ikuti reaksi hati Anda. Jika Anda merasa kurang sreg, gantilah dokter lain. Ingatlah bahwa dokter pilihan sahabat Anda belum tentu cocok dengan Anda atau anak Anda," saran Jennifer Shu, juru bicara American Academy of Pediatrics.
Secara umum, ada beberapa kriteria dokter ideal:
- Kemampuan komunikasi
Bila Anda mencari dokter andal untuk anak, perhatikan cara si dokter berinteraksi dengan anak. Berkunjung ke dokter mungkin menakutkan bagi anak-anak. Namun, dokter anak yang mengerti, mengenal, dan bisa berkomunikasi dengan anak-anak akan berusaha membuat pasiennya merasa nyaman.
Dokter yang ideal seharusnya juga selalu memberikan informasi secara jujur tentang kondisi kesehatan anak. Seorang dokter yang paling berpengalaman pun seharusnya mau mendengarkan keluhan pasiennya dan siap memberikan saran atau masukan.
- Waktu fleksibel
Kebanyakan dokter memang sibuk. Namun, dokter yang baik akan selalu meluangkan waktu untuk menjawab pertanyaan pasiennya. Dokter juga seharusnya menghargai waktu pasien dan tidak membiarkan pasien terlalu lama menunggu, kecuali dalam kondisi darurat.
- Pengetahuan terkini
Ilmu kedokteran dan pengobatan terus berkembang setiap saat, dan dokter yang baik akan selalu membekali dirinya dengan informasi terkini mengenai penyakit, pengobatan, dan pencegahan. Mengedukasi pasien mengenai kesehatan adalah bagian dari tugas dokter.
- Tidak memaksa tes
Ada kalanya dokter akan meminta Anda melakukan tes penunjang sebagai penguat diagnosis. Namun, Anda perlu curiga jika dokter Anda terlalu sering meminta Anda melakukan tes. "Hal itu bisa menjadi tanda si dokter tidak percaya pada diagnosisnya. Bila Anda tidak yakin dengan prosedurnya, carilah opini kedua," kata Schultz.
- Terjangkau
Usahakan agar tempat praktik dokter pilihan Anda tidak terlalu jauh dari rumah. Dengan demikian, Anda tidak membutuhkan waktu lama jika memerlukan bantuan segera, terutama untuk anak-anak. Selain masalah lokasi, pilihlah juga dokter yang terjangkau dari segi biaya. Ingatlah bahwa selain biaya konsultasi, Anda masih harus mengeluarkan biaya untuk obat-obatan dan pemeriksaan penunjang manakala diperlukan.
Sumber :babycenter
Editor :Asep Candra
Rabu, 18 April 2012
Waspadai Kelainan Retina pada Bayi Prematur
JAKARTA,MINGGU-Orangtua yang memiliki bayi yang lahir prematur harus waspada. Salah satu penyebab kebutaan anak di negara maju dan beberapa negara berkembang adalah Retinophaty of Prematurity (ROP), yaitu kelainan retina pada bayi-bayi prematur.
"Karena itu kerjasama antara dokter anak dan dokter mata itu sangat penting," kata ahli mata dari RSCM/FKUI Dr Rita Sitorus SpM(K) PhD saat seminar mengenai Management Preterm Infant and ROP di Jakarta, Sabtu (10/1).
ROP pada bayi prematur dapat disertai gangguan penglihatan yang minimal atau disertai dengan adanya pertumbuhan pembuluh darah abnormal di retina yang pada akhirnya dapat mengakibatkan ablasio retina. Semakin muda dan kecil bayi yang hidup maka semakin besar pula risiko ROP pada bayi tersebut. Ada beberapa hal yang menyebabkan munculnya ROP pada bayi prematur, di antaranya adalah pemberian oksigen pada bayi prematur.
Staf ahli bagian Perinatologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI Dr Anita Juniatiningsih SpA menyatakan, pada bayi yang lahir kurang dari 750 gram juga berisiko terkena ROP. Selain itu, saturasi oksigen yang tinggi meningkatkan risiko ROP. Begitu juga pada bayi-bayi prematur yang mendapat transfusi darah, maka kadar besinya akan makin tinggi.
Insiden ROP pada bayi laki-laki sedikit lebih tinggi daripada bayi perempuan. Bayi prematur kurang dari 32 minggu atau berat badan kurang dari 1.500 gram berisiko tinggi mengalami ROP. Sekitar 20 persen bayi lahir prematur akan mengalami strasbismus atau kelainan refraksi ketika usia mereka mencapai tiga tahun. Oleh karena itu, skrining bayi prematur dengan atau tanpa risiko ROP perlu dilakukan secara rutin tiap enam bulan. Dengan adanya skrining pada bayi prematur diharapkan ROP dapat terdeteksi sedini mungkin sehingga dapat diterapi secara optimal.
"Identifikasi dini ini penting karena ROP berpotensi penyebab kebutaan pada anak, khusus di kota besar untuk bayi prematur tinggi jumlahnya. Ini bisa dicegah kebutaannya, jika ditangani lebih dini," kata Rita Sitorus.
"Deteksi dini memang perlu, tetapi tidak semua memerlukan treatment. Dokter mata yang tahu mana yang perlu ditreatment. Karena ketakutan terjadi malpraktik, beberapa pasien saya datang saat stadium sudah mencapai 4-5 atau stadium tinggi dengan riwayat lah ir prematur. Ini sudah terlambat," papar Rita.
Karena itu, kepedulian dokter anak perlu ditingkatkan. Dokter anak perlu memperhatikan pasien-pasien yang lahir prematur yang perlu mendapat penanganan dokter mata.
Kapan seorang anak perlu diperiksa untuk skrining ROP? Pemeriksaan awal bisa dilakukan pada 4-6 minggu usia kronologis. "Kita bisa bayangkan bayi prematur yang matanya sangat kecil diperiksa, tetapi dengan skill dokter mata, itu bisa dilakukan dalam beber apa periode waktu tertentu. Ada pemeriksaan zona tertentu, kapan harus difollow up itu tergantung dari level ROP tersebut. Kapan berhenti untuk skrining ROP? Sampai kita yakin tidak ada risiko serius untuk jadi ROP," papar Rita Sitorus.
Setelah masa itu berakhir, masih diperlukan follow up jangka panjang. Tidak saja memeriksa retina tetapi juga memperhatikan risiko jangka panjang.
Bersumber dari : www.kompas.com
"Karena itu kerjasama antara dokter anak dan dokter mata itu sangat penting," kata ahli mata dari RSCM/FKUI Dr Rita Sitorus SpM(K) PhD saat seminar mengenai Management Preterm Infant and ROP di Jakarta, Sabtu (10/1).
ROP pada bayi prematur dapat disertai gangguan penglihatan yang minimal atau disertai dengan adanya pertumbuhan pembuluh darah abnormal di retina yang pada akhirnya dapat mengakibatkan ablasio retina. Semakin muda dan kecil bayi yang hidup maka semakin besar pula risiko ROP pada bayi tersebut. Ada beberapa hal yang menyebabkan munculnya ROP pada bayi prematur, di antaranya adalah pemberian oksigen pada bayi prematur.
Staf ahli bagian Perinatologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI Dr Anita Juniatiningsih SpA menyatakan, pada bayi yang lahir kurang dari 750 gram juga berisiko terkena ROP. Selain itu, saturasi oksigen yang tinggi meningkatkan risiko ROP. Begitu juga pada bayi-bayi prematur yang mendapat transfusi darah, maka kadar besinya akan makin tinggi.
Insiden ROP pada bayi laki-laki sedikit lebih tinggi daripada bayi perempuan. Bayi prematur kurang dari 32 minggu atau berat badan kurang dari 1.500 gram berisiko tinggi mengalami ROP. Sekitar 20 persen bayi lahir prematur akan mengalami strasbismus atau kelainan refraksi ketika usia mereka mencapai tiga tahun. Oleh karena itu, skrining bayi prematur dengan atau tanpa risiko ROP perlu dilakukan secara rutin tiap enam bulan. Dengan adanya skrining pada bayi prematur diharapkan ROP dapat terdeteksi sedini mungkin sehingga dapat diterapi secara optimal.
"Identifikasi dini ini penting karena ROP berpotensi penyebab kebutaan pada anak, khusus di kota besar untuk bayi prematur tinggi jumlahnya. Ini bisa dicegah kebutaannya, jika ditangani lebih dini," kata Rita Sitorus.
"Deteksi dini memang perlu, tetapi tidak semua memerlukan treatment. Dokter mata yang tahu mana yang perlu ditreatment. Karena ketakutan terjadi malpraktik, beberapa pasien saya datang saat stadium sudah mencapai 4-5 atau stadium tinggi dengan riwayat lah ir prematur. Ini sudah terlambat," papar Rita.
Karena itu, kepedulian dokter anak perlu ditingkatkan. Dokter anak perlu memperhatikan pasien-pasien yang lahir prematur yang perlu mendapat penanganan dokter mata.
Kapan seorang anak perlu diperiksa untuk skrining ROP? Pemeriksaan awal bisa dilakukan pada 4-6 minggu usia kronologis. "Kita bisa bayangkan bayi prematur yang matanya sangat kecil diperiksa, tetapi dengan skill dokter mata, itu bisa dilakukan dalam beber apa periode waktu tertentu. Ada pemeriksaan zona tertentu, kapan harus difollow up itu tergantung dari level ROP tersebut. Kapan berhenti untuk skrining ROP? Sampai kita yakin tidak ada risiko serius untuk jadi ROP," papar Rita Sitorus.
Setelah masa itu berakhir, masih diperlukan follow up jangka panjang. Tidak saja memeriksa retina tetapi juga memperhatikan risiko jangka panjang.
Bersumber dari : www.kompas.com
Kamis, 05 April 2012
Bahaya Minum Air Bagi Bayi
PARA ahli kesehatan dari Johns Hopkins Children’s Center di Baltimore Amerika Serikat memperingatkan para orang tua untuk tidak memberi minum air kepada bayi di bawah usia enam bulan. Menurut hasil penelitian mereka, bayi di bawah 6 bulan akan terancam mengalami intoksikasi atau keracunan jika terlalu sering meminum air.
Sudah menjadi standar baku bahwa bayi di bawah usia 6 bulan seharusnya hanya mendapatkan makanan dari Air Susu Ibu (ASI). Selain steril, ASI adalah makanan alami yang padat nutrisi dan tidak mungkin diimbangi oleh susu formula atau makanan buatan lainnya.
Menurut para ahli di John Hopkins, memberikan air kepada bayi dikhawatiran dapat memicu refleks haus sehingga mereka akan kelebihan cairan.
“Bahkan ketika masih sangat mungil, bayi memiliki refleks akan rasa haus atau keinginan untuk minum. Ketika bayi kehausan dan ingin minum, cairan yang mereka butuhkan nantinya akan melebihi kebutuhan ASI atau susu formula ,” ungkap Dr. Jennifer Anders, salah seorang dokter anak di John Hopkins Children’s Center seperti dikutip Reuters Health.
Oleh karena organ ginjal bayi belum sempurna, lanjut Anders, memberi terlalu banyak air kepada bayi akan mengakibatkan tubuh mereka mengeluarkan sodium dan air buangan dalam jumlah banyak. Kehilangan sodium akan mempengaruhi aktivitas otak, oleh karena itu gejala awal keracunan dapat berwujud seperti irritabilitas, mengantuk dan perubahan mental lainnya.
Gejala lainnya dapat berupa rendahnya temperatur atau suhu tubuh (secara umum 97 derajat Fahrenheit), pembengkakan pada muka dan kejang-kejang. "Ini merupakan kondisi yang tidak terang-terangan," ungkap Anders.
Gejala-gejala awal keracunan ini tidaklah tampak, oleh karena itu kejang-kejang mungkin gejala pertama yang harus diwaspadai orang tua . Namun bila seorang anak mendapatkan penanganan medis sejak dini, kejang yang dialami anak kemungkinan tidak akan menimbulkan efek jangka panjang, tambahnya.
Anders dan rekannya mengatakan, air putih sebagai sebuh minuman seharusnya dihindari oleh bayi usia enam bulan atau usia di bawahnya. Para orang tua juga harus mencegah penggunaan susu formula yang terlalu encer, atau minuman bayi yang mengandung elektrolit.
Anders juga menambahkan, pada beberapa kasus tertentu pemberian air pada bayi mungkin tepat. Misalnya, bayi yang usianya lebih tua diperbolehkan mendapat sedikit air untuk membantu mengatasi kesulitan buang air besar (konstipasi) atau saat cuaca sangat panas. Tetapi para orang tua seharusnya selalu berkonsultasi dahulu dengan dokter anak sebelum melakukannya, sertaa hanya boleh memberi bayi satu atau dua ons air .
Jika orang tua mencurigai bayi mereka mengalami intoksifikasi, atau bayi mengalami kejang-kejang, sebaiknya segera mencari pertolongan medis.
Bersumber dari : www.kompas.com
Sudah menjadi standar baku bahwa bayi di bawah usia 6 bulan seharusnya hanya mendapatkan makanan dari Air Susu Ibu (ASI). Selain steril, ASI adalah makanan alami yang padat nutrisi dan tidak mungkin diimbangi oleh susu formula atau makanan buatan lainnya.
Menurut para ahli di John Hopkins, memberikan air kepada bayi dikhawatiran dapat memicu refleks haus sehingga mereka akan kelebihan cairan.
“Bahkan ketika masih sangat mungil, bayi memiliki refleks akan rasa haus atau keinginan untuk minum. Ketika bayi kehausan dan ingin minum, cairan yang mereka butuhkan nantinya akan melebihi kebutuhan ASI atau susu formula ,” ungkap Dr. Jennifer Anders, salah seorang dokter anak di John Hopkins Children’s Center seperti dikutip Reuters Health.
Oleh karena organ ginjal bayi belum sempurna, lanjut Anders, memberi terlalu banyak air kepada bayi akan mengakibatkan tubuh mereka mengeluarkan sodium dan air buangan dalam jumlah banyak. Kehilangan sodium akan mempengaruhi aktivitas otak, oleh karena itu gejala awal keracunan dapat berwujud seperti irritabilitas, mengantuk dan perubahan mental lainnya.
Gejala lainnya dapat berupa rendahnya temperatur atau suhu tubuh (secara umum 97 derajat Fahrenheit), pembengkakan pada muka dan kejang-kejang. "Ini merupakan kondisi yang tidak terang-terangan," ungkap Anders.
Gejala-gejala awal keracunan ini tidaklah tampak, oleh karena itu kejang-kejang mungkin gejala pertama yang harus diwaspadai orang tua . Namun bila seorang anak mendapatkan penanganan medis sejak dini, kejang yang dialami anak kemungkinan tidak akan menimbulkan efek jangka panjang, tambahnya.
Anders dan rekannya mengatakan, air putih sebagai sebuh minuman seharusnya dihindari oleh bayi usia enam bulan atau usia di bawahnya. Para orang tua juga harus mencegah penggunaan susu formula yang terlalu encer, atau minuman bayi yang mengandung elektrolit.
Anders juga menambahkan, pada beberapa kasus tertentu pemberian air pada bayi mungkin tepat. Misalnya, bayi yang usianya lebih tua diperbolehkan mendapat sedikit air untuk membantu mengatasi kesulitan buang air besar (konstipasi) atau saat cuaca sangat panas. Tetapi para orang tua seharusnya selalu berkonsultasi dahulu dengan dokter anak sebelum melakukannya, sertaa hanya boleh memberi bayi satu atau dua ons air .
Jika orang tua mencurigai bayi mereka mengalami intoksifikasi, atau bayi mengalami kejang-kejang, sebaiknya segera mencari pertolongan medis.
Bersumber dari : www.kompas.com
Rabu, 22 Februari 2012
Sakit Perut Pada Anak
Pernahkah Anda mengalami anak menangis sepanjang hari dan mengeluhkan perutnya sakit? Sakit perut memang merupakan salah satu alasan tersering orangtua membawa anaknya ke dokter anak. Meskipun ada beberapa penyebab sakit perut yang serius dan memerlukan perawatan segera, tetapi kebanyakan sakit perut pada anak merupakan sakit perut ringan dan tidak berbahaya. Sakit perut ringan yang paling sering adalah akibat infeksi virus atau bakteri pada saluran pencernaan. Infeksi tersebut akan mengakibatkan diare dan ditandai dengan sakit perut.
Berbagai macam penyebab sakit perut pada anak (dari ringan sampai berat):
Bila anak mengeluhkan sakit perut, Anda dapat mencoba memberikan obat penahan sakit dahulu seperti dengan sirup parasetamol. Bila sakit perut disebabkan oleh karena diare, maka perlu diberikan juga cairan rehidrasi oral untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang agar tidak terjadi dehidrasi. Penanganan sakit perut disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya.
Bawa anak ke dokter anak bila:
Berbagai macam penyebab sakit perut pada anak (dari ringan sampai berat):
- Konstipasi (sembelit)
- Diare (bisa karena virus, bakteri, ataupun parasit)
- Keracunan makanan
- Gastritis (radang lambung) atau esofagitis (radang esofagus)
- Kolik abdomen
- Trauma (benda tumpul atau benda runcing)
- Apendisitis/radang usus buntu
- Hernia inguinalis (hernia lipat paha)
- Intususepsi (satu bagian usus masuk ke dalam usus yang lain).
- Obstruksi usus (hambatan dalam usus sehingga usus tidak dapat mengalirkan makanan).
- Penyebab lainnya yang sangat jarang (NEC, penyakit Hirschsprung, malabsorbsi).
Bila anak mengeluhkan sakit perut, Anda dapat mencoba memberikan obat penahan sakit dahulu seperti dengan sirup parasetamol. Bila sakit perut disebabkan oleh karena diare, maka perlu diberikan juga cairan rehidrasi oral untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang agar tidak terjadi dehidrasi. Penanganan sakit perut disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya.
Bawa anak ke dokter anak bila:
- Sakit perut sangat hebat
- Anak tidak mau makan
- Disertai demam tinggi
- Atau sakit perut dengan BAB berdarah.
Selasa, 14 Februari 2012
Tonsilitis Pada Anak
Tonsil mungkin lebih dikenal di kalangan orangtua dengan sebutan amandel. Banyak orangtua yang mengatakan bahwa menurut dokter anak, amandel anaknya perlu diangkat dengan jalan operasi. Seringkali kemudian timbul pertanyaan mengenai hal ini. Apa itu amandel, mengapa bisa meradang, kapan perlu dibuang merupakan pertanyaan yang seringkali diajukan ke dokter anak.
Amandel atau tonsil merupakan bagian dari sistem imun yang terletak di kiri dan kanan tenggorokan. Pada waktu masih kecil amandel masih berguna untuk mencegah infeksi kuman dan berperan dalam sistem pertahanan tubuh, tetapi pada orang dewasa amandel sudah tidak memiliki peranan lagi karena fungsinya telah diambil organ lainnya. Amandel dapat membesar dan meradang apabila terjadi infeksi disana. Inilah yang disebut dengan tonsillitis.
Tonsillitis ditandai dengan peradangan amandel, yang biasanya disertai nyeri menelan, demam ringan, atau perubahan suara (serak). Anak seringkali menjadi malas untuk makan. Pengobatan tonsillitis disesuaikan dengan tanda dan gejalanya, seperti misalnya pemberian parasetamol untuk demam, atau antibiotik bila dicurigai infeksi disebabkan oleh bakteri (jarang). Dengan beristirahat yang cukup, biasanya tonsillitis akan sembuh dengan cepat kurang dari 3 hari.
Peradangan dan infeksi yang terjadi seringkali berulang. Hal inilah yang menyebabkan semakin lama amandel semakin membesar dan kemerahan. Bila memang sudah membesar dan meradang terus menerus, maka hal inilah yang seringkali menjadi indikasi untuk mengangkat dan membuang amandel. Selain itu masih ada beberapa keadaan lain sehingga diperlukan pengangkatan amandel, yaitu: sleep apneu (henti napas pada waktu tidur), mengorok hebat, dan amandel yang bernanah. Setiap kekhawatiran dan pertanyaan mengenai operasi amandel sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter anak.
Bersumber dari : www.kiddiecarecentre.com
Amandel atau tonsil merupakan bagian dari sistem imun yang terletak di kiri dan kanan tenggorokan. Pada waktu masih kecil amandel masih berguna untuk mencegah infeksi kuman dan berperan dalam sistem pertahanan tubuh, tetapi pada orang dewasa amandel sudah tidak memiliki peranan lagi karena fungsinya telah diambil organ lainnya. Amandel dapat membesar dan meradang apabila terjadi infeksi disana. Inilah yang disebut dengan tonsillitis.
Tonsillitis ditandai dengan peradangan amandel, yang biasanya disertai nyeri menelan, demam ringan, atau perubahan suara (serak). Anak seringkali menjadi malas untuk makan. Pengobatan tonsillitis disesuaikan dengan tanda dan gejalanya, seperti misalnya pemberian parasetamol untuk demam, atau antibiotik bila dicurigai infeksi disebabkan oleh bakteri (jarang). Dengan beristirahat yang cukup, biasanya tonsillitis akan sembuh dengan cepat kurang dari 3 hari.
Peradangan dan infeksi yang terjadi seringkali berulang. Hal inilah yang menyebabkan semakin lama amandel semakin membesar dan kemerahan. Bila memang sudah membesar dan meradang terus menerus, maka hal inilah yang seringkali menjadi indikasi untuk mengangkat dan membuang amandel. Selain itu masih ada beberapa keadaan lain sehingga diperlukan pengangkatan amandel, yaitu: sleep apneu (henti napas pada waktu tidur), mengorok hebat, dan amandel yang bernanah. Setiap kekhawatiran dan pertanyaan mengenai operasi amandel sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter anak.
Bersumber dari : www.kiddiecarecentre.com
Kamis, 22 Desember 2011
Sakit Kepala
Sakit kepala merupakan salah satu keluhan tersering yang menyebabkan anak dibawa ke dokter anak. Meskipun ada banyak sekali penyebab sakit kepala, tetapi kebanyakan sakit kepala pada anak umumnya ringan saja dan berdampak serius. Memang ada beberapa penyebab sakit kepala yang berat dan serius (seperti tumor otak), tetapi sangat jarang. Penyebab paling sering pada anak adalah: stres karena sekolah, karena infeksi virus ringan, sinusitis, atau gangguan penglihatan.
Sakit kepala pada anak dapat dibedakan menjadi sakit kepala tension, migrain, atau melayang/sempoyongan. Sakit kepala tension dirasakan sebagai sakit kepala hampir di seluruh kepala dan kepala terasa berat. Sakit kepala migrain dirasakan hanya di satu sisi kepala saja dan berdenyut. Sakit kepala melayang/sempoyongan umumnya disebabkan oleh infeksi virus seperti ISPA, dsb. Permasalahan di sekolah seperti tahun ajaran baru, guru baru, teman baru, banyaknya pekerjaan sekolah dapat menjadi sebab sakit kepala pada anak.
Pengobatan sakit kepala yang ringan sebenarnya tidak terlalu sulit. Berikan anak istirahat atau tidur lebih lama dari biasanya, tanyakan adakah permasalahan yang dapat dibicarakan dengan Anda (bila anak sudah lebih besar), dan juga berikan kasih sayang yang lebih terlihat seperti memijit leher dan kepala anak. Bila sakit dirasakan cukup berat, dapat diberikan obat analgetik. Untuk sakit kepala pada anak pemberian sirup parasetamol biasanya sudah cukup bermanfaat.
Bawalah anak ke dokter anak bila:
Pengobatan sakit kepala yang ringan sebenarnya tidak terlalu sulit. Berikan anak istirahat atau tidur lebih lama dari biasanya, tanyakan adakah permasalahan yang dapat dibicarakan dengan Anda (bila anak sudah lebih besar), dan juga berikan kasih sayang yang lebih terlihat seperti memijit leher dan kepala anak. Bila sakit dirasakan cukup berat, dapat diberikan obat analgetik. Untuk sakit kepala pada anak pemberian sirup parasetamol biasanya sudah cukup bermanfaat.
Bawalah anak ke dokter anak bila:
- Sakit kepala tidak menunjukkan perbaikan dalam 24 jam, atau bahkan memburuk.
- Sakit kepala disertai mual, muntah
- Sakit kepala disertai kejang
- Ataupun ada gangguan penglihatan (seperti melihat blur atau double).
Langganan:
Postingan (Atom)