Tampilkan postingan dengan label parasetamol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label parasetamol. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 Oktober 2012

Waspada! Obat Tradisional Ini Paling Banyak Dioplos Bahan Kimia


Jakarta, Banyak orang Indonesia lebih memilih obat tradisional karena dipercaya memiliki efek samping yang lebih sedikit ketimbang obat kimia. Namun apa jadinya bila obat tradisional justru dicampur obat kimia dan diminum terus-menerus?

"Obat tradisional baik kalau benar-benar murni dan tidak dicampur dengan bahan kimia obat," jelas Drs. T Bahdar Johan, Apt, M.Pharm, Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Kosmetik dan Produk Komplementer BPOM, dalam acara Media Gathering di Kantor BPOM, Jakarta, Selasa (18/9/2012).

Berdasarkan data Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), sejak tahun 2001 hingga 2012 ada 4 jenis obat tradisional yang paling sering dicampur dengan bahan kimia obat (BKO).

Pada tahun 2001-2007, obat tradisional yang paling sering dicampur bahan kimia adalah obat rematik dan penghilang rasa sakit. Menurut temuan BPOM, obat tradisional tersebut dicampur dengan bahan kimia obat berupa Fenilbutason, Metampiron, Parasetamol dan Asam Mefenamat.

Di tahun 2008-2011, obat tradisional yang paling sering dioplos adalah obat pelangsing dan obat penambah stamina (aprodisiak), yang dicampur dengan Sibutramin, Sildenafil dan Tadalafil.

Sedangkan di tahun 2012 hingga semester 1, yang paling sering dicampur bahan kimia adalah obat rematik dan penghilang rasa sakit, yang dicampur Fenilbutason, Piroksikam, Parasetamol dan Asam Mefenamat.

Apa efek sampingnya bila obat tradisional dicampur bahan kimia obat?

"Orang kan minum obat tradisional karena dianggap efeknya samping sedikit. Karena dianggap sedikit, akhirnya diminum terus-terusan. Kalau sudah dicampur bahan kimia, efeknya kan bisa lebih berbahaya," pungkas Bahdar.

Berikut risiko dan efek samping penggunaan bahan kimia obat:

1. Sildenafil Sitrat
Sebagai obat disfungsi ereksi bila digunakan berlebihan dalam menyebabkan sakit kepala, muka merah, pusing, mual, nyeri perut, gangguan penglihatan, infark miokard (biasa dikenal serangan jantung), nyeri dada, jantung berdebar dan kematian.

2. Natrium Diklofenak
Sebagai obat anti rematik bila digunakan berlebihan dapat menyebabkan rasa tidak nyaman pada saluran cerna, mual, diare dan kadang perdarahan tukak, dispepsia, reaksi hipersensitifitas, sakit kepala, pusing, vertigo, gangguan pendengaran seperti tinnitus (telinga berdenging), fotosensitifitas dan hematuria (darah di urine), gangguan pada darah, nekrosis papilar atau fibrosis interstisial.

3. Fenilbutason
Sebagai obat anti rematik bila digunakan berlebihan dapat menyebabkan mual, muntah, ruam kulit, penimbunan cairan, perdarahan lambung, perforasi lambung, reaksi hipersensitifitas (Steven Johnsons Syndrome), hepatitis, gagal ginjal, leukopenia (jumlah sel darah putih rendah), anemia aplastik dan agranulositosis.

4. Parasetamol
Sebagai obat menghilangkan rasa sakit dapat menyebabkan kerusakan hati bila diminum dalam jangka panjang atau dalam dosis besar.

5. Piroksikam
Sebagai obat penghilang rasa sakit bila digunakan berlebihan dapat menyebabkan anoreksia, nyeri perut, konstipasi, diare, mual, muntah, tukak lambung, sindrom Steven Johnsons, sakit kepala, demam, penglihatan kabur dan hipertensi.

6. Sibutramin HCL
Sebagai obat pelangsing yang bila digunakan berlebihan dapat meningkatkan tekanan darah, denyut jantung meningkat, sulit tidur, kejang, penglihatan kabur dan gangguan ginjal.

Bahdar menjelaskan, obat tradisional memiliki banyak manfaat dan minim efek samping bila kandungannya benar-benar murni. Namun bila sudah dicampur dengan bahan kimia, maka efek buruknya lebih banyak ketimbang manfaatnya.

Untuk itu, konsumen perlu jeli untuk melihat nomor registrasi BPOM pada bungkus obat tradisional karena kebanyakan obat tradisional oplosan tersebut tidak terdaftar di BPOM.

Selain tanpa nomor registrasi, konsumen juga perlu waspada bila mengonsumsi obat tradisional yang efek sembuhnya instan, karena besar kemungkinan obat tradisional tersebut sudah dicampur bahan kimia.


(mer/ir)
Bersumber dari : Merry Wahyuningsih - detikHealth

Rabu, 22 Februari 2012

Sakit Perut Pada Anak

Pernahkah Anda mengalami anak menangis sepanjang hari dan mengeluhkan perutnya sakit? Sakit perut memang merupakan salah satu alasan tersering orangtua membawa anaknya ke dokter anak. Meskipun ada beberapa penyebab sakit perut yang serius dan memerlukan perawatan segera, tetapi kebanyakan sakit perut pada anak merupakan sakit perut ringan dan tidak berbahaya. Sakit perut ringan yang paling sering adalah akibat infeksi virus atau bakteri pada saluran pencernaan. Infeksi tersebut akan mengakibatkan diare dan ditandai dengan sakit perut.

Berbagai macam penyebab sakit perut pada anak (dari ringan sampai berat):
  • Konstipasi (sembelit)
  • Diare (bisa karena virus, bakteri, ataupun parasit)
  • Keracunan makanan
  • Gastritis (radang lambung) atau esofagitis (radang esofagus)
  • Kolik abdomen
  • Trauma (benda tumpul atau benda runcing)
  • Apendisitis/radang usus buntu
  • Hernia inguinalis (hernia lipat paha)
  • Intususepsi (satu bagian usus masuk ke dalam usus yang lain).
  • Obstruksi usus (hambatan dalam usus sehingga usus tidak dapat mengalirkan makanan).
  • Penyebab lainnya yang sangat jarang (NEC, penyakit Hirschsprung, malabsorbsi).

Bila anak mengeluhkan sakit perut, Anda dapat mencoba memberikan obat penahan sakit dahulu seperti dengan sirup parasetamol. Bila sakit perut disebabkan oleh karena diare, maka perlu diberikan juga cairan rehidrasi oral untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang agar tidak terjadi dehidrasi. Penanganan sakit perut disesuaikan dengan penyebab yang mendasarinya.

Bawa anak ke dokter anak bila:

  • Sakit perut sangat hebat
  • Anak tidak mau makan
  • Disertai demam tinggi
  • Atau sakit perut dengan BAB berdarah.
Bersumber dari : www.kiddiecarecentre.com

Jumat, 17 Februari 2012

Demam Pada Anak

Demam merupakan alasan terbanyak orangtua membawa anaknya ke dokter. Demam terkadang menjadi momok tersendiri bagi orangtua, dan banyak orangtua yang takut dan khawatir bila anaknya demam. Para orangtua beranggapan bahwa demam yang tinggi selalu akan menjadi kejang dan menimbulkan masalah di otak atau bahkan kematian. Sebenarnya demam merupakan suatu respons dari tubuh sebagai pertanda adanya suatu ketidakberesan di dalam tubuh. Infeksi merupakan penyebab tersering ketidakberesan tersebut.

Seorang anak dikatakan demam apabila suhu tubuhnya di atas 37,5°C pada pengukuran ketiak dengan menggunakan temperatur air raksa. Suhu tubuh normal pada anak bervariasi (0,5-1°C) sepanjang hari dengan suhu yang meningkat sedikit di sore hari. Demam pada anak sangat jarang yang menimbulkan masalah serius. Hampir sebagian besar demam yang terjadi pada anak disebabkan oleh infeksi virus dan jarang yang disebabkan oleh bakteri. Demam membantu tubuh melawan infeksi tersebut, meningkatkan sistem imun dan memproduksi lebih banyak sel darah putih untuk melawan kuman. Ketakutan terhadap terjadinya kejang pada saat demam sebenarnya tidak perlu, mengingat kalaupun terjadi kejang pada saat demam itupun tidak berbahaya (lihat topik tentang kejang demam).

Sebelum dibawa ke dokter anak, sebenarnya orangtua dapat mencoba untuk meredakan demam terlebih dahulu di rumah. Orangtua dapat memberikan obat parasetamol untuk anaknya dengan dosis 10 mg/kg berat badan setiap kali pemberian. Parasetamol dapat diberikan sampai maksimal 5 kali dalam sehari (maksimal 50 mg/kg berat badan per hari) dengan jarak antara pemberian sekitar 4 jam. Penggunaan aspirin tidak disarankan karena dapat menyebabkan sindrom Reye yang berbahaya. Untuk pengompresan terkadang orangtua juga masih bingung apakah menggunakan air hangat, air dingin, atau bahkan alkohol. Disarankan untuk menggunakan air hangat sewaktu mengompres, karena menggunakan air dingin dapat menyebabkan anak menggigil. Penggunaan alkohol untuk mengompres tidak disarankan karena dapat menyebabkan keracunan alkohol karena alkohol dapat terserap masuk ke dalam darah melalui kulit. Jangan lupa untuk memberikan cairan minum yang banyak dan istirahat yang cukup sewaktu anak demam.

Bawa anak demam ke dokter anak bila:
  • Berusia kurang dari 3 bulan.
  • Tidak mau makan atau menelan apapun.
  • Selalu menangis bila anda menyentuhnya.
  • Lehernya menjadi kaku.
  • Suhunya lebih dari 39°C.
  • Demam sudah berlangsung 3 hari.
  • Anak mengalami kejang.
  • Muntah-muntah.
Bersumber dari : www.kiddiecarecentre.com

Senin, 13 Februari 2012

Herpes zoster (cacar ular)

Orangtua terkadang panik bila dokter mengatakan anaknya terkena penyakit Herpes zoster. Mereka mengira bahwa anak mereka terkena penyakit kelamin. Ternyata penyakit Herpes itu memang ada 2 jenis yang sangat berbeda, hanya nama depannya saja yang kebetulan sama. Penyakit yang mungkin lebih dikenal oleh orangtua sebagai penyakit kelamin adalah Herpes simpleks, sedangkan Herpes zoster adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus Varicela zoster. Penyakit ini mungkin lebih dikenal dengan istilah awamnya yaitu cacar ular.

Tanda dan gejala yang timbul cukup khas, yaitu demam disertai timbulnya gelembung bernanah yang bergerombol di satu daerah kulit (biasanya di daerah dada atau perut, walaupun dapat juga di daerah lain). Gelembung yang timbul terasa sakit dan hanya di satu sisi (bisa kiri atau kanan). Penyakit ini termasuk penyakit yang dapat sembuh sendiri (self limiting disease), dan pemberian sirup antipiretik seperti parasetamol disertai istirahat yang cukup biasanya sudah dapat menyembuhkan.

Penyakit ini dapat ditularkan langsung dari orang lain ataupun merupakan bentuk aktivasi yang lain dari infeksi cacar air sebelumnya. Cacar air (varisela) yang telah sembuh, ternyata sebagian kecil virus tidak mati tetapi berdiam di dalam tubuh dan apabila sewaktu-waktu aktif kembali maka akan timbul Herpes zoster ini. Walaupun demikian, para orangtua tidak perlu terlalu cemas karena umumnya penyakit ini jarang menimbulkan komplikasi yang lebih serius.

Bersumber dari : www.kiddiecarecentre.com