Tampilkan postingan dengan label infeksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label infeksi. Tampilkan semua postingan
Minggu, 29 April 2012
Protein dalam ASI Bisa Bertindak Sebagai Anti Kanker
Jakarta, Air susu ibu (ASI) diketahui mengandung berbagai nutrisi yang sangat berguna bagi bayi. Ternyata salah satu kandungan protein dari ASI ini memiliki sifat sebagai anti kanker.
Studi menunjukkan tingginya kadar protein TNF-related apoptosis inducing ligand (TRIAL) di dalam susu manusia merupakan salah satu sumber aktivitas anti kanker dari ASI.
Para peneliti mengambil sampel dari kolostrum (susu pertama yang keluar untuk bayi baru lahir) serta ASI dari perempuan yang baru menjadi ibu. Lalu peneliti juga mengambil sampel darah dari perempuan sehat serta susu formula.
Ibu-ibu yang terlibat dalam penelitian ini telah dites terlebih dahulu dan memenuhi syarat karena tidak menunjukkan tanda-tanda eklampsia, infeksi atau demam, sehingga bisa melahirkan bayi yang sehat.
Selanjutnya peneliti mengukur tingkat TRAIL dari kolostrum, ASI, darah (serum) dan susu formula. Ditemukan kolostrum dan ASI mengandung 100-400 kali lipat kadar TRAIL yang lebih tinggi dibanding darah, sedangkan pada susu formula tidak ditemukan TRAIL.
"TRAIL merupakan kandidat kuat untuk menjelaskan efek biologis secara menyeluruh dari menyusui dalam melawan kanker," ujar peneliti, seperti dikutip dari MedIndia, Kamis (26/4/2012).
Selain itu hasil studi ini juga menguatkan peran penting dalam pencegahan kanker pada anak, seperti kanker lymphoblastic leukemia, penyakit Hodgkins serta neuroblastoma yang banyak menyerang anak-anak.
Diketahui kanker anak terjadi sekitar 2-4 persen dari seluruh kasus kanker pada manusia dan menyebabkan 10 persen kematian pada anak. Kanker anak kemungkinan besar dapat disembuhkan jika ditemukan pada stadium dini.
Tapi sayangnya melakukan deteksi dini kanker anak tidaklah mudah, karena anak-anak belum dapat memahami dan menceritakan gejala yang dirasakannya. Karena itu peran orang-orang di sekitarnya sangat penting dalam mendeteksi adanya gejala-gejala kanker.
(ver/ir)
Bersumber dari : Vera Farah Bararah - detikHealth
Selasa, 14 Februari 2012
Tonsilitis Pada Anak
Tonsil mungkin lebih dikenal di kalangan orangtua dengan sebutan amandel. Banyak orangtua yang mengatakan bahwa menurut dokter anak, amandel anaknya perlu diangkat dengan jalan operasi. Seringkali kemudian timbul pertanyaan mengenai hal ini. Apa itu amandel, mengapa bisa meradang, kapan perlu dibuang merupakan pertanyaan yang seringkali diajukan ke dokter anak.
Amandel atau tonsil merupakan bagian dari sistem imun yang terletak di kiri dan kanan tenggorokan. Pada waktu masih kecil amandel masih berguna untuk mencegah infeksi kuman dan berperan dalam sistem pertahanan tubuh, tetapi pada orang dewasa amandel sudah tidak memiliki peranan lagi karena fungsinya telah diambil organ lainnya. Amandel dapat membesar dan meradang apabila terjadi infeksi disana. Inilah yang disebut dengan tonsillitis.
Tonsillitis ditandai dengan peradangan amandel, yang biasanya disertai nyeri menelan, demam ringan, atau perubahan suara (serak). Anak seringkali menjadi malas untuk makan. Pengobatan tonsillitis disesuaikan dengan tanda dan gejalanya, seperti misalnya pemberian parasetamol untuk demam, atau antibiotik bila dicurigai infeksi disebabkan oleh bakteri (jarang). Dengan beristirahat yang cukup, biasanya tonsillitis akan sembuh dengan cepat kurang dari 3 hari.
Peradangan dan infeksi yang terjadi seringkali berulang. Hal inilah yang menyebabkan semakin lama amandel semakin membesar dan kemerahan. Bila memang sudah membesar dan meradang terus menerus, maka hal inilah yang seringkali menjadi indikasi untuk mengangkat dan membuang amandel. Selain itu masih ada beberapa keadaan lain sehingga diperlukan pengangkatan amandel, yaitu: sleep apneu (henti napas pada waktu tidur), mengorok hebat, dan amandel yang bernanah. Setiap kekhawatiran dan pertanyaan mengenai operasi amandel sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter anak.
Bersumber dari : www.kiddiecarecentre.com
Amandel atau tonsil merupakan bagian dari sistem imun yang terletak di kiri dan kanan tenggorokan. Pada waktu masih kecil amandel masih berguna untuk mencegah infeksi kuman dan berperan dalam sistem pertahanan tubuh, tetapi pada orang dewasa amandel sudah tidak memiliki peranan lagi karena fungsinya telah diambil organ lainnya. Amandel dapat membesar dan meradang apabila terjadi infeksi disana. Inilah yang disebut dengan tonsillitis.
Tonsillitis ditandai dengan peradangan amandel, yang biasanya disertai nyeri menelan, demam ringan, atau perubahan suara (serak). Anak seringkali menjadi malas untuk makan. Pengobatan tonsillitis disesuaikan dengan tanda dan gejalanya, seperti misalnya pemberian parasetamol untuk demam, atau antibiotik bila dicurigai infeksi disebabkan oleh bakteri (jarang). Dengan beristirahat yang cukup, biasanya tonsillitis akan sembuh dengan cepat kurang dari 3 hari.
Peradangan dan infeksi yang terjadi seringkali berulang. Hal inilah yang menyebabkan semakin lama amandel semakin membesar dan kemerahan. Bila memang sudah membesar dan meradang terus menerus, maka hal inilah yang seringkali menjadi indikasi untuk mengangkat dan membuang amandel. Selain itu masih ada beberapa keadaan lain sehingga diperlukan pengangkatan amandel, yaitu: sleep apneu (henti napas pada waktu tidur), mengorok hebat, dan amandel yang bernanah. Setiap kekhawatiran dan pertanyaan mengenai operasi amandel sebaiknya dikonsultasikan dengan dokter anak.
Bersumber dari : www.kiddiecarecentre.com
Minggu, 04 Desember 2011
Hepatitis A
Hepatitis A termasuk salah satu penyakit Hepatitis (peradangan pada hati) yang disebabkan oleh virus hepatotropik. Virus hepatitis A tergolong picornavirus dan menular melalui kontak erat dan jalur oral-fekal (misalnya memakan makanan/minuman yang tercemar oleh virus ini). Indonesia merupakan daerah endemis hepatitis virus A.
Tanda dan gejala hepatitis A akan mulai timbul kurang lebih 15-50 hari setelah terinfeksi. Infeksi pada anak, apalagi bayi, seringkali asimtomatis (tidak bergejala). Pada anak yang lebih besar dapat terlihat tanda dan gejala seperti mual, muntah, demam, lemas, urin yang berwarna kuning, serta perut yang membesar. Hepatitis A bersifat akut dan tidak menjadi kronis. Pada beberapa keadaan dapat terjadi prolonged hepatitis (tanda dan gejala yang lama sampai berminggu-minggu) atau relapsing hepatitis (kambuh kembali). Pada hepatitis A jarang menimbulkan komplikasi berupa hepatitis fulminan, tetapi bila terjadi dapat menyebabkan kematian.
Penanganan infeksi hepatitis A hanya sebatas terapi simtomatik dan suportif saja. Hepatitis A termasuk self-limiting disease (dapat sembuh sendiri). Istirahat total, pemberian obat-obat simtomatik, dan minum lebih banyak sudah dapat menyembuhkan. Komplikasi seperti yang telah disebutkan di atas sangat jarang terjadi, tetapi bila terjadi perlu perawatan yang intensif di rumah sakit.
Pencegahan dilakukan dengan cara seperti misalnya: menyajikan makanan dan minuman yang higienis, memastikan setiap makanan sudah dimasak dengan betul, pola hidup sehat, mencuci tangan sebelum makan. Sekarang ini juga sudah tersedia vaksin hepatitis A. Vaksin dibuat dari virus yang dimatikan dan dapat diberikan pada usia mulai dari 2 tahun. Vaksin diberikan sebanyak 2 kali dengan jarak antara pemberian 6-12 bulan.
Bersumber dari : www.kiddiecarecentre.com
Penanganan infeksi hepatitis A hanya sebatas terapi simtomatik dan suportif saja. Hepatitis A termasuk self-limiting disease (dapat sembuh sendiri). Istirahat total, pemberian obat-obat simtomatik, dan minum lebih banyak sudah dapat menyembuhkan. Komplikasi seperti yang telah disebutkan di atas sangat jarang terjadi, tetapi bila terjadi perlu perawatan yang intensif di rumah sakit.
Pencegahan dilakukan dengan cara seperti misalnya: menyajikan makanan dan minuman yang higienis, memastikan setiap makanan sudah dimasak dengan betul, pola hidup sehat, mencuci tangan sebelum makan. Sekarang ini juga sudah tersedia vaksin hepatitis A. Vaksin dibuat dari virus yang dimatikan dan dapat diberikan pada usia mulai dari 2 tahun. Vaksin diberikan sebanyak 2 kali dengan jarak antara pemberian 6-12 bulan.
Bersumber dari : www.kiddiecarecentre.com
Kamis, 10 November 2011
Infeksi Toksoplasma Mengincar Kehamilan
Hati-hati dengan kehamilan Anda, jangan sampai kebahagiaan menjadi calon ibu pupus gara-gara infeksi Toksoplasma.
Untuk itu pemeriksaan yang dibutuhkan adalah Aviditas Anti-Toksoplasma IgG. Bayi yang lahir sehat tanpa
cacat merupakan idaman ibu hamil. Karena itu, ibu hamil perlu merawat kehamilannya sejak dini dengan memeriksakan diri secara teratur ke dokter, menjaga kebersihan dan mengonsumsi makanan bergizi. Namun, mengingat infeksi Toksoplasma pada umumnya tidak bergejala atau dengan gejala yang tidak khas, maka seringkali luput dari pengamatan dokter. Oleh sebab itu, untuk membantu ibu hamil merawat kandungannya sejak dini, sebaiknya dilakukan pemeriksaan Toksoplasma pada awal kehamilan
Pagi itu, Agnes yang sedang hamil muda tiba-tiba mengalami perdarahan dari vagina. Ia tahu, wanita yang hamil muda bisa mengalami bercak dan perdarahan yang tidak berbahaya, tapi kali ini ia cemas, ia merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan kehamilannya. Benar saja, dokter memastikan Agnes keguguran, akibat
infeksi toksoplasma. Dari pemeriksaan laboratorium, ditemukan adanyapeningkatan antibodi terhadap toksoplasma.
infeksi toksoplasma. Dari pemeriksaan laboratorium, ditemukan adanyapeningkatan antibodi terhadap toksoplasma.
Mengapa bisa terjadi, padahal selama ini ia telah berusaha menghindari kucing, yang diketahui sebagai penular kuman yang dapat mengakibatkan keguguran. Tangis Agnes meledak, begitu lama ia menunggu, dan impian memperoleh momongan kini hilang sudah.
Awas Infeksi TORCH
Meskipun kehamilan merupakan hal biasa, tetapi ibu hamil perlu berhati-hati dalam kesehatannya. Bukan hanya untuk menghindari keguguran, tetapi juga agar calon bayi mendapatkan awal kehidupan yang baik. Karena itu, sebelum dan selama hamil perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan. Dokter
akan mengecek beberapa hal untuk mencegah terjadinya komplikasi, antara lain penyakit diabetes, hipertensi, beberapa penyakit infeksi, dan anemia, sekalipun ibu hamil tidak mengalami gejala tersebut.
akan mengecek beberapa hal untuk mencegah terjadinya komplikasi, antara lain penyakit diabetes, hipertensi, beberapa penyakit infeksi, dan anemia, sekalipun ibu hamil tidak mengalami gejala tersebut.
Saat ini, infeksi masih menjadi masalah dalam bidang kebidanan (obstetri), walaupun tidak segawat waktu dulu, di mana proses melahirkan dikenal sebagai perjuangan hidup mati bagi para ibu. Selain berpengaruh pada sang ibu, infeksi yang terjadi pada ibu hamil dapat menular kepada bayinya melalui plasenta (ari-ari) atau kontak langsung dengan penginfeksi (sumber infeksi) yang terdapat di jalan lahir.
Sejak 30 tahun lalu, perhatian ditujukan pada TORCH, sebutan untuk sekelompok kuman penginfeksi, yaitu Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus dan virus Herpes simpleks tipe 2. Dan infeksi Toksoplasma merupakan salah satu infeksi yang paling banyak menyita perhatian kalangan medis maupun masyarakat.
Toksoplasma
Infeksi Toksoplasma biasanya tanpa gejala, atau kadang disertai gejala ringan menyerupai flu, dan pada umumnya tidak menimbulkan masalah. Namun, infeksi yang terjadi pada saat ibu sedang hamil dapat menular kepada janin yang dikandungnya, dan risiko kerusakan pada janin semakin parah bila infeksi terjadi semakin awal. Akibatnya dapatberupa keguguran atau gangguan berat pada bayi yang dilahirkan sepertimembesarnya kepala (hidrosefalus), gangguan pada mata (korioretinitis), dan keterbelakangan (retardasi) mental. Infeksi yang terjadi setelah usia kehamian 24 minggu biasanya bersifat sub-klinis (tidak bergejala), di mana sebagian bayi yang terinfeksi tampak sehat-sehat saja pada saat lahir, tetapi apabila tidak diobati, maka dalam perjalanan usia menuju remaja, akan muncul gejala berupa gangguan mata, pendengaran dan keterlambatan perkembangan.
Toksoplasmosis merupakan penyakit yang sering dijumpai di daerah yang mempunyai kebiasaan memelihara kucing, karena kucing yang terinfeksi merupakan sumber penularan kuman Toxoplasma gondii yang terdapat pada kotorannya (feses) dalam bentuk ookista. Setelah tiga hari berada
di alam, ookista ini akan menjadi sumber infeksi dan dapat bertahan hidup hingga beberapa tahun di dalam tanah yang lembab. Kebal terhadap deterjen biasa, tetapi dapat dihancurkan dengan cara pemanasan kering, pemanasan atau pembekuan. Manusia dapat terinfeksi melalui daging hewan yang terinfeksi, buah-buahan dan sayur yang tercemar dan tidak dimasak dengan baik, atau kontak
langsung dengan sesuatu yang tercemar oleh kotoran kucing.
di alam, ookista ini akan menjadi sumber infeksi dan dapat bertahan hidup hingga beberapa tahun di dalam tanah yang lembab. Kebal terhadap deterjen biasa, tetapi dapat dihancurkan dengan cara pemanasan kering, pemanasan atau pembekuan. Manusia dapat terinfeksi melalui daging hewan yang terinfeksi, buah-buahan dan sayur yang tercemar dan tidak dimasak dengan baik, atau kontak
langsung dengan sesuatu yang tercemar oleh kotoran kucing.
Mendeteksi Infeksi Toksoplasma
Diagnosis infeksi Toksoplasma secara klinis sulit ditegakkan, karena gejalanya yang tidak khas (spesifik), bahkan sebagian besar tidak bergejala, sehingga untuk mendapatkan diagnosis yang tepat mutlak diperlukan pemeriksaan laboratorium.
Mendeteksi infeksi Toksoplasma
Pemeriksaan Anti-Toksoplasma IgG dan Anti-Toksoplasma IgM disarankan untuk orang yang diduga terinfeksi, wanita yang akan hamil, wanita yang baru atau sedang hamil yang hasil pemeriksaan sebelumnya negatif atau belum pernah diperiksa, dan bayi yang baru lahir dari ibu yang terinfeksi
(kadang-kadang diperlukan pemeriksaan Anti-Tokoplasma IgA untuk meningkatkan kemampuan deteksi adanya infeksi bawaan).
(kadang-kadang diperlukan pemeriksaan Anti-Tokoplasma IgA untuk meningkatkan kemampuan deteksi adanya infeksi bawaan).
Infeksi Toksoplasma dapat bersifat laten, tetapi yang berbahaya adalah infeksi primer (infeksi pertama kali) yang terjadi di saat kehamilan, terutama pada trimester pertama. Karena itu, bila pemeriksaan yang dilakukan pada saat awal kehamilan menunjukkan hasil yang positif terinfeksi, maka perlu dilihat lebih lanjut apakah infeksi tersebut baru pertama kali terjadi, atau telah lama berlangsung.
Untuk itu pemeriksaan yang dibutuhkan adalah Aviditas Anti-Toksoplasma IgG. Bayi yang lahir sehat tanpa
cacat merupakan idaman ibu hamil. Karena itu, ibu hamil perlu merawat kehamilannya sejak dini dengan memeriksakan diri secara teratur ke dokter, menjaga kebersihan dan mengonsumsi makanan bergizi. Namun, mengingat infeksi Toksoplasma pada umumnya tidak bergejala atau dengan gejala yang tidak khas, maka seringkali luput dari pengamatan dokter. Oleh sebab itu, untuk membantu ibu hamil merawat kandungannya sejak dini, sebaiknya dilakukan pemeriksaan Toksoplasma pada awal kehamilan
Mereka yang ‘wajib’ periksa Toksoplasma
- Wanita yang berencana hamil.
- Wanita yang tengah hamil, bila hasil sebelumnya negatif atau belum pernah diperiksa. Idealnya dipantau setiap 3 bulan sekali.
- Bayi baru lahir dari ibu yang terinfeksi pada saat hamil. Untuk memastikan adanya infeksi bawaan, sering diperlukan pemeriksaan tambahan.
Referensi :
- Pedersen, B.S.Prof. Infeksi TORCH Pada Kehamilan. Forum Diagnosticum, Laboratorium
Klinik Prodia, 1997 - Remington, J.S. & Klein. J.O. Infectious Diseases of the Fetus & Newborn Infant 4th ed. WB Sanders Company, Philadelphia, 1995
- Isada, C.M. et.al. Infectious Diseases Handbook. Lex-comp Inc., Ohio, 1996.
Bersumber dari : www.anakku.net
Selasa, 08 November 2011
Lidah si Kecil Terserang Jamur
Lidah bayiku kok putih-putih ya? Si Kecil juga jadi uring-uringan dan malas menyusui… Jangan kaget, mungkin ia terkena infeksi jamur di lidah (“thrush”). Infeksi ini memang cukup umum terjadi pada bayi dan anak kecil.
Bersumber dari : www.anakku.net
Seperti apa jamur di lidah?
Infeksi jamur dapat terjadi di berbagai bagian tubuh kita, termasuk di rongga mulut. Di rongga mulut pun, jamur dapat muncul di berbagai tempat namun yang amat sering adalah di permukaan lidah, kulit yang mengitari mulut, atau pojok mulut.
Bayi dan anak kecil dapat menjadi korban dari jamur di mulut. Wujudnya adalah lapisan atau bercak-bercak putih kekuningan yang menimbul di lidah yang mungkin dikelilingi oleh daerah kemerahan. Apabila lapisan atau bercak ini dicoba dibersihkan atau diusap, maka dapat terlepas, namun meninggalkan daerah kemerahan yang mudah berdarah. Infeksi jamur ini perlu dibedakan dengan penyebab lainnya. Bayi mungkin mempunyai putih-putih di lidah yang merupakan penumpukan sisa-sisa produk susu yang kurang bersih. Umumnya lapisan putih ini dapat mudah dibersihkan dengan kasa atau handuk lembut, dan tidak meninggalkan daerah yang merah atau berdarah.
Awalnya bercak-bercak putih ini tidak menimbulkan rasa sakit. Namun apabila sering terkelupas dan teriritasi, maka akan menyebabkan rasa sakit dan panas di mulut yang dapat menyebar ke tenggorokan. Pada bayi, dapat juga disertai infeksi jamur di daerah selangkangan (ruam popok/“diaper rash”). Bayi mungkin rewel, banyak menangis, dan terlihat kurang semangat saat menyusui.
Ibu menyusui yang terinfeksi jamur dapat menjadi sumber penularan jamur Candida dan sebaliknya bayi dapat menyebabkan infeksi pada puting susu ibu. Ibu juga mungkin mempunyai infeksi jamur di vagina karena pada saat kehamilan hal ini memang cukup sering terjadi. Di payudara dirasakan sebagai rasa panas dan sakit pada puting susu atau payudara setelah menyusui, dan kemerahan pada puting susu.
Mengapa bisa muncul jamur di lidah?
Adanya jamur di lidah adalah karena infeksi dari jamur jenis Candida. Sebetulnya setiap orang mempunyai jamur Candida di mulut. Jamur ini langsung menjadi penghuni rongga mulut begitu bayi dilahirkan, umumnya karena penyebaran dari genitalia ibu atau kontak dengan kulit dan benda lainnya yang terkontaminasi jamur. Namun infeksi terjadi apabila keseimbangan kuman-kuman di mulut terganggu, sehingga jumlah jamur Candida menjadi berlebihan.
Orang pada tiap usia dapat menjadi penderita infeksi jamur di mulut, namun ada beberapa keadaan yang meningkatkan kemungkinan seseorang menjadi terinfeksi seperti:
- Setelah konsumsi antibiotika atau pemakaian obat kumur antibakterial yang berlebihan. Hal tersebut menyebabkan keseimbangan kuman di mulut terganggu.
- Pemakaian gigi tiruan atau anak yang memakai alat meratakan gigi (kawat gigi) lepasan (yang berupa plat) yang kurang bersih atau kurang pas sehingga menimbulkan luka di mulut yang mudah dihuni jamur.
- Pemakaian obat kortikosteroid yang menekan sistem pertahanan tubuh kita.
- Usia bayi, kehamilan, dan usia lanjut lebih rentan terhadap infeksi jamur.
- Adanya penyakit dalam jangka waktu lama.
Pengobatan jamur di lidah
Pengobatan jamur di lidah adalah memakai obat anti jamur, yang paling sering digunakan adalah nystatin, yang berupa cairan yang diteteskan di mulut bayi empat kali sehari. Dokter anak atau dokter gigi anak dapat memberikan dosis yang sesuai dengan umur anak Anda. Umumnya pengobatan dilakukan 7 sampai 10 hari. Bercak putih akan segera hilang, namun ingat: obat perlu dilanjutkan 3 hari setelah bercak hilang. Apabila bayi juga menderita ruam popok dapat juga diobati dengan salep anti jamur yang sesuai. Hindari pemakaian “baby wipes” yang mengandung alkohol karena dapat semakin mengiritasi bagian selangkangan yang terinfeksi.
Apabila ibu menyusui juga terinfeksi, maka penting untuk diobati untuk mencegah infeksi ulang ke bayi. Salep anti jamur dapat dioleskan di puting susu ibu tiga sampai empat kali sehari. Ibu perlu berkonsultasi ke dokter apabila ada gejala infeksi jamur pada vagina.
Adalah penting untuk mensterilkan setiap peralatan makan/minum atau mainan (dot, botol, empeng, gelas, alat makan,“teething ring”) yang masuk ke mulut bayi, karena dapat juga menyebabkan infeksi berulang.
Kok muncul-muncul terus?
Apabila infeksi jamur di mulut sering muncul kembali, ada beberapa hal yang perlu dicermati:
- Pastikan alat makan/minum, serta mainan yang masuk mulut bayi selalu bersih. Jamur Candida memang ada dimana-mana sehingga dapat mengontaminasi dengan mudah.
- Pastikan anak tidak memakai dot/empeng atau minum susu botol secara berlebihan, karena dapat menyebabkan lembab dan pecahnya kulit di bagian dalam mulut yang mudah dihuni jamur. Botol dan empeng sebaiknya dibuang dan diganti dengan yang baru apabila anak sering infeksi berulang.
- Pastikan gizi anak cukup dengan pola makan yang seimbang sehingga mempunyai kekebalan tubuh yang baik.
- Bayi dan anak (terutama anak yang sudah cukup besar) namun infeksi jamur sulit hilang atau sering berulang perlu diperiksa terhadap adanya penyakit lainnya.
Pemeliharaan lidah bayi dan anak-anak
Lidah seringkali menjadi bagian yang diabaikan pada saat membersihkan rongga mulut. Pada bayi, lidah perlu dibersihkan dari sisa-sisa susu yang mengumpul di lidah. Alat untuk membersihkan sederhana sekali: bisa berupa kain kasa atau handuk lembut yang dibasahi air matang hangat. Sekarang ini juga tersedia sikat khusus untuk lidah, salah satunya bisa dipasangkan di jari tangan sehingga mudah untuk dikontrol.
Pada saat anak berusia 1 tahun ke atas dan mulai diperkenalkan dengan sikat gigi, maka lidah anak juga dapat disikat. Memang pada awalnya anak mungkin mempunyai refleks rasa mual, namun apabila dibiasakan maka alan makin terbiasa.
Referensi:
- Brightman VJ. Red and White Lesions if the Oral Mucosa. In: Burket’s Oral Medicine: Diagnosis and Treatment, 9th Edition. J.B. Lippincott Co., 1994, pp.61-64.
- www.NetDoctor.co.uk Oral thrush (fungal infection in the mouth)
- www.About.com About Pediatrics: Thrush – An Oral Yeast Infection
Bersumber dari : www.anakku.net
Senin, 07 November 2011
Muntah pada Bayi dan Anak
Dokter, anak saya umur 4 bulan tiba-tiba muntah setelah minum susu 1 botol. Tidak demam, batuk, pilek maupun diare. Kencing biasa.
Dokter, anak saya umur 4 bulan tiba-tiba muntah setelah minum susu 1 botol. Tidak demam, batuk, pilek maupun diare. Kencing biasa.
Bersumber dari : www.anakku.net
Dokter , anak saya muntah setiap minum maupun makan sejak tadi pagi. Anak demam dan diare.
Dokter, anak saya umur 4 bulan tiba-tiba muntah setelah minum susu 1 botol. Tidak demam, batuk, pilek maupun diare. Kencing biasa.
Dokter , anak saya muntah setiap minum maupun makan sejak tadi pagi. Anak demam dan diare.
Kejadian di atas adalah dua contoh keluhan orang tua yang sering disampaikan kepada dokter karena anaknya menderita muntah. Muntah sering terjadi pada anak dan bayi yang sering membuat orang tua risau. Sebenarnya apakah muntah itu ?
Defnisi muntah
Muntah didefinisikan sebagai pengeluaran isi lambung atau esophagus melalui mulut dengan paksa. Muntah harus dibedakan dengan beberapa kejadian :
- Posetting yaitu pengeluaran sedikit isi lambung sehabis makan, biasanya meleleh keluar dari mulut. Hal ini tidak berbahaya. Akan menghilang dengan sendirinya
- Regurgitasi Regurgitasi disebabkan oleh ketidakmampuan sphinter kardioesophageal atau memanjangnya waktu pengosongan lambung. Sebagian besar kejadian regurgitasi akan menghilang sendiri dengan bertambah umur bayi. Beberpa kejadian dapat mengganggu pertumbuhan dan menimbulkan infeksi saluran nafas berulang.
Apa penyebab muntah?
Muntah dapat merupakan bagian dari banyak penyakit yang diderita anak dan bayi. Penyebab utama muntah pada anak adalah infeksi saluran pencernaan (gastroenteritris). Muntah sering terjadi mendahului diare. Penyakit lain dapat juga menyebabkan seoramng anak atau bayi muntah misal infeksi telinga (otitis media), infeksi saluran kencing, infeksi saluran nafas, hepatitis, infeksi intracranial, peningkatan tekanan di dalam otak (mis tumor, perdarahan otak). Adanya penyempitan atau kelainan struktur saluran pencernaan (mis stenosis pylorus, megacolon konginetal) dapat memunculkan gejala muntah pada bayi beberapa hari setelah lahir. Disamping itu keracunan makanan atau alergi makanan atau susu dapat merangsang timbulnya gejala muntahsebelum muncul gejala yang lain. Pada saat anak muntah sering diawali dengan berkeringat dingin, pucat, keluar air ludah, bernafas dalam, nadi cepat. Muntah yang berwarna hijau harus lebih mendapat perhatian dari orangtua karena kemungkinan bayi atau anak menderita penyakit yang serius.
Bagaimana mengobati muntah?
Orangtua dapat melakukan pertolongan pertama pada saat anak muntah dengan cara anak diberi minum secara bertahap, mencegah agar anak tidak tersedak dengan cara memiringkan kepala bila anak muntah, menghindari makanan padat sampai muntah hilang, istirahat. Segera ke dokter untuk berkonsultasi jika muntah terus berlanjut. Jika muntah dan diare berlanjut, seorang anak atau bayi dapat menderita kekurangan cairan (dehidrasi) sehingga sebaiknya anak diberikan cairan rehidrasi seperti oralit. Minuman lain seperti Cola, Juice buah tidak dapat mengganti cairan dan elektrolit yang keluar saat muntah. ASI tetap diberikan bagi bayi yang masih mendapat ASI.
Bagaimana mencegah muntah?
Beberapa cara yang dapat dilakukan oleh orang tua untuk mencegah muntah pada bayi atau anak yaitu :
- hidup bersih dan sehat
- mengurangi minum soda
- tidak makan dan bermain pada waktu bersamaan
- posisi kepala bayi lebih tinggi pada saat minum
- Sendawakan bayi setelah minum
Referensi :
- Donald WL, MD, Rudolph. Fundamental of Pediatrics. 2nd. Eds, Appleton & Lange, 1998
- Nelson. Textbook of Pediatrics, 17th Eds, Saunders, 2004
- Vomiting. Digestive disorder. health cares.net
Bersumber dari : www.anakku.net
Minggu, 06 November 2011
Jika Anak tersiram air panas
Tersiram air panas merupakan salah satu penyebab luka bakar yang sering pada anak. Inilah yang bisa dilakukan.
luka bakar, ini akan menentukan apakah anak perlu di bawa ke rumah
sakit atau tidak.
Waktu penyembuhan: pada luka bakar derajat dua yang dangkal, dapat sembuh sendiri dalam waktu 10-14 hari. Pada luka bakar derajat dua dalam, yaitu bila folikel rambut, kelenjar keringat dan sebasea terkena meski hanya sebagian kecil, penyembuhan menjadi lebih lama bisa mencapai satu bulan.
Tandanya: Tidak ada lagi lepuh dan anak tidak merasa nyeri karena ujung saraf rusak. Area kulit yang terkena berwarna abu-abu dan pucat, letaknya lebih rendah daripada kulit normal. Folikel rambut, kelenjar keringat dan sebasea ikut rusak.
Penyembuhan tergantung keparahan. Pada yang parah, bisa dilakukan transplantasi kulit untuk menggantikan kulit yang hilang.
Mengenali tipe luka bakar yang terjadi
Jika anak tersiram air panas, pertama kali kenalilah derajat keparahanluka bakar, ini akan menentukan apakah anak perlu di bawa ke rumah
sakit atau tidak.
Luka bakar derajat satu:
Paling ringan, luka terbatas pada lapisan kulit paling luar. Tandanya: kemerahan, nyeri, sedikit bengkak, kulit kering tetapi tidak ada lepuh. Kulit di area yang terkena biasanya berubah pucat jika ditekan. Bisa sembuh sendiri dalam waktu 5-10 hari.Luka bakar derajat dua:
Kerusakan kulit meliputi kulit paling luar (epidermis) dan sebagian kulit bagian dalam (dermis). Tandanya: reaksi radang lebih berat, kulit tampak berair disertai lepuh (gelembung berisi cairan). Area juga terasa nyeri sehingga anak akan menangis disebabkan iritasi ujung saraf. Permukaan area luka berwarna merah atau pucat, sering terletak lebih tinggi dari kulit normal.Waktu penyembuhan: pada luka bakar derajat dua yang dangkal, dapat sembuh sendiri dalam waktu 10-14 hari. Pada luka bakar derajat dua dalam, yaitu bila folikel rambut, kelenjar keringat dan sebasea terkena meski hanya sebagian kecil, penyembuhan menjadi lebih lama bisa mencapai satu bulan.
Luka bakar derajat tiga:
Merupakan yang paling berat dan mengenai seluruh lapisan kulit hingga jaringan di bawahnya.Tandanya: Tidak ada lagi lepuh dan anak tidak merasa nyeri karena ujung saraf rusak. Area kulit yang terkena berwarna abu-abu dan pucat, letaknya lebih rendah daripada kulit normal. Folikel rambut, kelenjar keringat dan sebasea ikut rusak.
Penyembuhan tergantung keparahan. Pada yang parah, bisa dilakukan transplantasi kulit untuk menggantikan kulit yang hilang.
Langkah selanjutnya sesuai dengan tipe luka bakar yang terjadi:
Jika luka bakar derajat satu:
- Jika sempat, bukalah pakaian si anak di area yang terkena air panas.
- Alirkan air sejuk (tetapi tidak dingin) di area tersebut, bisa juga di kompres hingga nyeri berkurang (jangan memakai es karena akan memperlama penyembuhan).
- Jangan menggunakan mentega, odol, bedak, atau apapun yang katanya dapat digunakan untuk luka bakar sebab bisa meningkatkan risiko infeksi.
- Cucilah area yang terkena dua kali sehari dengan sabun cair. Jangan mengutak-atik lepuh yang berisi cairan karena berfungsi melindungi kulit dari infeksi. Saat lepuh pecah, bersihkan sisa-sisa kulit yang tertinggal, dan berikan salep antibiotik atau antiseptik lalu tutup dengan perban steril. Ganti perban setiap kali luka dicuci.
- Jika keluhan nyeri amat mengganggu aktivitas si anak, dapat diberikan asetaminofen atau ibuprofen diminum sesuai dosis. Kompres air sejuk juga bisa mengurangi nyeri.
Jika luka bakar derajat dua dalam atau derajat tiga:
- Segera bawa ke unit gawat darurat rumah sakit
- Sebelumnya, lakukan tindakan sesuai luka bakar derajat satu
- Baringkan anak dengan posisi area yang terkena lebih tinggi
- Pastikan area tersebut bebas dari pakaian ataupun ikatan
- Selimuti luka bakar dengan handuk bersih yang dilembabkan, jaga jangan sampai anak kedinginan atau kepanasan.
Bawa anak ke rumah sakit bila:
- Luka bakar termasuk derajat dua atau tiga
- Area yang terkena air panas cukup luas, yaitu lebih dari 15-20% permukaan tubuh. Luka bakar bisa menyebabkan kematian karena kehilangan cairan tubuh dan reaksi inflamasi yang berlebihan. Semakin luas area terkena, semakin besar kemungkinan itu terjadi.
- Luka bakar terjadi di wajah, kepala, tangan, persendian, dan area kemaluan.
- Luka bakar tampak bernanah, membengkak, dan kulit normal di sekitarnya tampak ikut memerah.
Anda bisa menelpon atau datang ke dokter di lain hari, bila terjadi:
- Luka bakar terinfeksi
- Tidak sembuh-sembuh dalam sepuluh hari
- Anak tampak makin sakit
- Jika ada kekhawatiran terjadi sesuatu pada anak.
Referensi:
- Moenadjat Y. Luka bakar, penatalaksanaan awal dan permasalahannya. Dalam: Ramli M, Umbas R, Panigoro SS, penyunting. Kedaruratan Non Bedah dan Bedah. Balai Penerbit FKU: Jakarta, 2000
- Burns. Emergencies: what to do. Kidshealth for parents. Tersedia dalam: www.kidshealth.com
- University of Michigan Health System. Schmitt BD, MD. Burns (Thermal). McKesson Health Solutions LLC. 2002.
Selasa, 01 November 2011
Mencegah Infeksi Pneumokokus
Lebih baik menghindari infeksi pneumokokus, karena pengobatannya cenderung sulit. Tapi, bagaimana caranya? Berikan vaksinasi.
Jangan anggap remeh kuman pneumokokus (Streptococcus pneumoniae) karena ia bisa menyebabkan berbagai penyakit pada anak Anda. Bahkan hingga saat ini pneumokokus merupakan salah satu penyebab utama penyakit dan kematian pada anak. Menurut data WHO, dilaporkan satu juta anak di bawah usia 5 tahun meninggal setiap tahun meninggal akibat infeksi pneumokokus. Mengapa sampai meninggal? Pneumokokus dapat menyebabkan Invasive Pneumococcal Diseases, yaitu sekelompok penyakit berat misalnya radang paru (pneumonia), radang selaput otak (meningitis), dan beredarnya kuman dalam darah (bakteremia). Bakteremia dapat menyebabkan kerusakan pada organ-organ tubuh.
Selain penyakit yang fatal, pneumokokus juga menyebabkan radang telinga tengah (otitis media). Limapuluh persen otitis media disebabkan pneumokokus.
Sulit diobati
Infeksi pneumokokus berat memerlukan antibiotika. Namun sayangnya, infeksi pneumokokus sering resisten (tidak mempan) terhadap antibiotika. Hal ini seringkali membuat pengobatan infeksi pneumokokus pada anak kecil semakin sulit.
Sulitnya mengobati infeksi pneumokokus membuat kita berpikir untuk lebih baik menghindarinya. Akan tetapi, menghindari penumokokus cenderung sulit dilakukan karena kuman ini terdapat dimana-mana dan kita tidak pernah tahu siapa pembawa kuman ini.
Sekitar 44 persen anak di atas 6 tahun membawa kuman ini di hidung dan tenggorokannya tanpa merasa sakit apa-apa, disebut sebagai carrier. Hal ini bukan hanya membahayakan anak tersebut, namun juga akan menyebarkan infeksi kepada mereka yang tinggal serumah, dan anak lain yang bermain dengannya.
Rentan menular
Kuman ini mudah menular lewat pernapasan. Berada dekat dengan si pembawa kuman amat riskan tertular, apalagi saat ia berbicara, batuk, atau bersin, dapat membuat kuman terhirup masuk ke tubuh anak. Yang bisa dilakukan adalah meningkatkan daya tahan tubuh secara umum dengan mengkonsumsi makanan bergizi dan istirahat cukup. Apabila daya tahan tubuh menurun, tubuh lebih rentan terkena penyakit, dan hal ini berlaku bagi segala infeksi, bukan hanya pneumokokus.
Pemberian ASI eksklusif baik dapat meningkatkan daya tahan tubuh bayi karena mengandung antibodi yang melindungi terhadap berbagai penyakit. Faktor risiko lain adalah adanya kelainan pada saluran napas. Hindari asap rokok dan polusi udara yang dapat mengiritasi mukosa saluran napas. Ada sebuah kebiasaan yang tampaknya sederhana namun sering kita lupakan yaitu mencuci tangan dengan sabun. Meski kelihatan sepele, hal ini dapat menghilangkan kuman dan virus yang menempel tanpa disadari.
Perlukah vaksinasi?
Upaya lain untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit adalah pemberian vaksinasi yang bertujuan untuk membuat antibodi di dalam tubuh anak. Saat ini sudah tersedia vaksin konjugat 7 valen untuk mencegah penyakit pneumokokus invasif pada anak, sedangkan pada lansia di atas 65 tahun vaksin yang diberikan adalah vaksin polisakarida 23 valen. Di Indonesia vaksin ini masih relatif baru, dan belum sempat dimasukkan dalam daftar imunisasi yang dianjurkan.
Vaksin ini direkomendasikan pada semua anak di bawah usia 2 tahun, sampai berusia 5 tahun. Vaksin ini dapat mencegah penyakit pneumokokus berat (invasif) yaitu pneumonia, meningitis, dan bakteremia.
Penggunaan vaksin pada anak di bawah 2 tahun di Amerika Serikat menunjukkan berkurangnya penyakit pneumokokal invasif yang cukup bermakna, yaitu sebesar 87% pada anak kurang dari 1 tahun dan 58% pada anak berusia di bawah 2 tahun.
Vaksinasi juga mengurangi berkembangnya pneumokokus di tenggorokan sehingga mengurangi penularan antar manusia. Supaya lebih efektif dalam memberikan perlindungan, vaksin ini perlu diberikan sejak dini pada bayi.
Vaksin diberikan sebanyak 4 kali pada bayi di bawah 7 bulan. Jadwal pemberiannya yaitu pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, dan 12-15 bulan. Pada anak yang lebih besar, frekuensi pemberian vaksin kurang dari 4 kali, tergantung dari umur anak. Lamanya perlindungan yang diberikan vaksin ini paling tidak selama 3 tahun.
Nah, setelah tahu cara pencegahannya, kini Anda tidak perlu terlalu khawatir anak Anda akan tertular pneumokokus saat ia sedang asyik bermain di luar rumah bersama teman sebayanya, atau berada di tempat umum. Beri vaksin saja.
Tips mencegah infeksi pneumokokus pada anak
Referensi
Jangan anggap remeh kuman pneumokokus (Streptococcus pneumoniae) karena ia bisa menyebabkan berbagai penyakit pada anak Anda. Bahkan hingga saat ini pneumokokus merupakan salah satu penyebab utama penyakit dan kematian pada anak. Menurut data WHO, dilaporkan satu juta anak di bawah usia 5 tahun meninggal setiap tahun meninggal akibat infeksi pneumokokus. Mengapa sampai meninggal? Pneumokokus dapat menyebabkan Invasive Pneumococcal Diseases, yaitu sekelompok penyakit berat misalnya radang paru (pneumonia), radang selaput otak (meningitis), dan beredarnya kuman dalam darah (bakteremia). Bakteremia dapat menyebabkan kerusakan pada organ-organ tubuh.
Selain penyakit yang fatal, pneumokokus juga menyebabkan radang telinga tengah (otitis media). Limapuluh persen otitis media disebabkan pneumokokus.
Sulit diobati
Infeksi pneumokokus berat memerlukan antibiotika. Namun sayangnya, infeksi pneumokokus sering resisten (tidak mempan) terhadap antibiotika. Hal ini seringkali membuat pengobatan infeksi pneumokokus pada anak kecil semakin sulit.
Sulitnya mengobati infeksi pneumokokus membuat kita berpikir untuk lebih baik menghindarinya. Akan tetapi, menghindari penumokokus cenderung sulit dilakukan karena kuman ini terdapat dimana-mana dan kita tidak pernah tahu siapa pembawa kuman ini.
Sekitar 44 persen anak di atas 6 tahun membawa kuman ini di hidung dan tenggorokannya tanpa merasa sakit apa-apa, disebut sebagai carrier. Hal ini bukan hanya membahayakan anak tersebut, namun juga akan menyebarkan infeksi kepada mereka yang tinggal serumah, dan anak lain yang bermain dengannya.
Rentan menular
Kuman ini mudah menular lewat pernapasan. Berada dekat dengan si pembawa kuman amat riskan tertular, apalagi saat ia berbicara, batuk, atau bersin, dapat membuat kuman terhirup masuk ke tubuh anak. Yang bisa dilakukan adalah meningkatkan daya tahan tubuh secara umum dengan mengkonsumsi makanan bergizi dan istirahat cukup. Apabila daya tahan tubuh menurun, tubuh lebih rentan terkena penyakit, dan hal ini berlaku bagi segala infeksi, bukan hanya pneumokokus.
Pemberian ASI eksklusif baik dapat meningkatkan daya tahan tubuh bayi karena mengandung antibodi yang melindungi terhadap berbagai penyakit. Faktor risiko lain adalah adanya kelainan pada saluran napas. Hindari asap rokok dan polusi udara yang dapat mengiritasi mukosa saluran napas. Ada sebuah kebiasaan yang tampaknya sederhana namun sering kita lupakan yaitu mencuci tangan dengan sabun. Meski kelihatan sepele, hal ini dapat menghilangkan kuman dan virus yang menempel tanpa disadari.
Perlukah vaksinasi?
Upaya lain untuk meningkatkan daya tahan tubuh terhadap penyakit adalah pemberian vaksinasi yang bertujuan untuk membuat antibodi di dalam tubuh anak. Saat ini sudah tersedia vaksin konjugat 7 valen untuk mencegah penyakit pneumokokus invasif pada anak, sedangkan pada lansia di atas 65 tahun vaksin yang diberikan adalah vaksin polisakarida 23 valen. Di Indonesia vaksin ini masih relatif baru, dan belum sempat dimasukkan dalam daftar imunisasi yang dianjurkan.
Vaksin ini direkomendasikan pada semua anak di bawah usia 2 tahun, sampai berusia 5 tahun. Vaksin ini dapat mencegah penyakit pneumokokus berat (invasif) yaitu pneumonia, meningitis, dan bakteremia.
Penggunaan vaksin pada anak di bawah 2 tahun di Amerika Serikat menunjukkan berkurangnya penyakit pneumokokal invasif yang cukup bermakna, yaitu sebesar 87% pada anak kurang dari 1 tahun dan 58% pada anak berusia di bawah 2 tahun.
Vaksinasi juga mengurangi berkembangnya pneumokokus di tenggorokan sehingga mengurangi penularan antar manusia. Supaya lebih efektif dalam memberikan perlindungan, vaksin ini perlu diberikan sejak dini pada bayi.
Vaksin diberikan sebanyak 4 kali pada bayi di bawah 7 bulan. Jadwal pemberiannya yaitu pada usia 2 bulan, 4 bulan, 6 bulan, dan 12-15 bulan. Pada anak yang lebih besar, frekuensi pemberian vaksin kurang dari 4 kali, tergantung dari umur anak. Lamanya perlindungan yang diberikan vaksin ini paling tidak selama 3 tahun.
Nah, setelah tahu cara pencegahannya, kini Anda tidak perlu terlalu khawatir anak Anda akan tertular pneumokokus saat ia sedang asyik bermain di luar rumah bersama teman sebayanya, atau berada di tempat umum. Beri vaksin saja.
Tips mencegah infeksi pneumokokus pada anak
- Berikan ASI eksklusif selama 6 bulan
- Mencuci tangan dengan benar secara rutin
- Hindari asap rokok
- Hindari debu dan polusi udara
- Hindari tempat yang penuh orang
- Vaksinasi pneumokokus mulai saat anak di bawah usia 2 tahun
Referensi
- AAP. Policy statement: Recommendations for the prevention of pneumococcal infections, including the use of pneumococcal conjugate vaccine (Prevnar), pneumococcal polysaccharide vaccine, and antibiotic prophylaxis. Pediatrics 2000; 106:362-6.
Langganan:
Postingan (Atom)