Tampilkan postingan dengan label sakit kepala. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sakit kepala. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Februari 2012

Orang Bisa Kena Demam Berdarah Minimal 4 Kali

Jakarta, Demam berdarah dengue (DBD) disebabkan oleh virus yang dibawa nyamuk. Saat terinfeksi maka tubuh akan membentuk antibodi untuk melawannya. Tapi bisakah orang yang sudah pernah DBD terkena lagi?

"Kalau sudah kena sekali DBD maka ia belum kebal, karena virus DBD ada 4 jenis yaitu DEN-1, 2, 3 dan 4. Jadi kita bisa kena DBD 4 kali," ujar Dr Leonard Nainggolan, SpPD-KPTI dalam acara Pocari Sweat conference 2012 'Edukasi Masyarakat Mengenai Pentingnya Cairan dan Ion untuk Jaga Kesehatan Sehari-hari' di Hotel Le Meridien, Jakarta, Minggu (12/2/2012).

Dr Leonard menuturkan meski sudah terkena 4 kali DBD dengan virus yang berbeda-beda, tapi tidak ada yang bisa memberikan jaminan aman absolut bahwa ia tidak akan terkena DBD lagi. Hal ini karena antara virus DEN-1 Indonesia misalnya dengan DEN-1 Kuba berbeda, sehingga antibodi yang terbentuk juga berbeda.

"Sekarang transportasi sudah sangat hebat, jadi enggak bisa make sure steril atau bebas dari DBD terlebih jika ia pergi ke luar negeri. Tapi kemungkinan kena laginya jauh lebih kecil, karena antibodi untuk keempat virus itu sudah ada," ujar Dr Leonard yang merupakan ahli penanganan demam berdarah dan penyakit infeksi tropik dari FKUI.

Kapan seseorang dicurigai terkena demam berdarah dengue?

Berdasarkan WHO dan Kemenkes, seseorang dicurigai DBD jika ia mengalami:

  1. Demam mendadak ditambah 2 gejala dibawah ini
  2. Sakit kepala
  3. Nyeri di belakang mata
  4. Nyeri otot
  5. Nyeri tulang
  6. Ruam (bercak merah) di kulit
  7. Tanda perdarahan
  8. Leukosit atau sel darah putihnya rendah
  9. Uji tes serologi dengue positif
  10. Ada tetangga yang diketahui positif DBD

"Demam mendadak ini misalnya pagi harinya ia masih terlihat baik-baik saja, tiba-tiba besoknya mengalami demam. Apalagi kalau demam disertai dengan gejala yang muncul banyak," ujar dokter kelahiran pemantang siantar, 15 Februari 1969.

Sementara itu perdarahan yang muncul bisa hanya terjadi di bawah kulit (muncul bintik-bintik merah) sampai muntah darah atau mimisan, tergantung dari seberapa banyak cairan yang keluar dari pembuluh darah akibat kebocoran.

"Untuk diagnosis DBD bisa dilakukan dengan melakukan tes IgG/IgM dan tes NS1. Kalau ditanya yang mana yang paling akurat, jawabannya dua-duanya, tapi waktunya yang harus dilihat. Jika demam baru 2 hari maka tes NS1, tapi kalau demam hari kelima maka tes IgG/IgM," ungkapnya.

Hal ini karena untuk tes IgG/IgM berfungsi mendeteksi antibodi yang terbentuk di dalam tubuh. Antibodi ini baru terbentuk setelah demam hari ketiga dan alat baru bisa mendeteksi pada hari kelima ketika jumlah antibodi sudah mencapai angka tertentu.

Sedangkan tes NS1 digunakan untuk mendeteksi bagian virus apakah ada di dalam tubuh atau tidak, tes ini sudah bisa dilakukan sejak hari pertama demam. Karena itu harus dilihat terlebih dahulu waktunya, sudah berapa hari demam yang dialaminya.

Fase demam berdarah ini ada masa inkubasi sekitar 5-9 hari mulai dari infeksi sampai timbul gejala, lalu fase akut yang mana sudah muncul gejala sekitar 1-3 hari dan pada hari ke 4-6 merupakan fase kritis. Saat itulah terjadi kebocoran pembuluh darah kapiler.

Jika pasien DBD mengalami kedaruratan seperti syok, kejang, kesadaran menurun dan perdarahan maka harus dirawat di rumah sakit. Tapi jika masih bisa makan dan minum dengan baik serta tidak ada kegawatdaruratan maka bisa rawat jalan sambil tetap minum yang banyak, obat untuk mengatasi gejala dan monitor pemeriksaan laboratorium untuk hemoglobin, hematokrit, leukosit dan trombosit.

"Karena belum ada vaksin atau obat untuk membunuh virus, maka pengandalian lingkungan dan perilaku penting, salah satunya dengan mencegah genangan air terutama saat musim hujan, karena satu tetes genangan air saja bisa menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk," ujar Dr Leonard yang juga menjadi konsultan tim ahli demam berdarah Kemenkes RI.

(ver/ir

Bersumber dari : Vera Farah Bararah - detikHealth

Rabu, 01 Februari 2012

3 Jenis Sakit Kepala yang Butuh Penanganan Darurat

Jakarta, Sakit kepala biasanya tidak mengancam jiwa. Namun sakit kepala yang amat parah bisa jadi pertanda sesuatu hal yang jauh lebih serius dan membutuhkan penanganan darurat. Setidaknya ada 3 jenis sakit kepala yang membutuhkan penanganan darurat.

Gejala penyakit seperti stroke, aneurisma (perdarahan dari pembuluh darah) dan meningitis biasanya berupa sakit kepala. Maka itu ada baiknya mengawasi sakit kepala yang terasa sangat berbeda dari sakit kepala biasa.

"Pusing yang tidak biasa berarti gejala kelainan pembuluh darah di otak yang sudah mulai sedikit bocor. Kondisi ini bisa berubah gawat sehingga menyebabkan pendarahan dan dapat mengancam kehidupan," kata Adam Wilkes, MD, spesialis Unit Gawat Darurat di Lankenau Hospital di Wynnewood, Pennsylvania seperti dilansir Health.com, Jumat (27/1/2012).

Berikut adalah tiga tanda-tanda sakit kepala yang membutuhkan penanganan dokter dengan segera.

1. Sakit kepala disertai nyeri leher dan demam

Sakit kepala yang disertai nyeri atau kaku pada leher dan demam bisa jadi pertanda meningitis. Meningitis atau radang selaput sistem saraf pusat dapat dengan cepat berubah menjadi kritis.

Gejala khasnya adalah demam, sakit kepala dan kekakuan pada otot leher yang berlangsung selama berjam-jam atau dirasakan sampai 2 hari.

2. Sakit kepala disertai mual

Mual parah atau muntah disertai gangguan syaraf seperti kesulitan berbicara atau berjalan dapat menjadi tanda-tanda stroke hemorrhagic, yaitu stroke yang disertai pendarahan pada otak.

Kerusakan akibat stroke ini dapat terjadi dengan sangat cepat, baik karena pendarahan atau karena meningkatnya tekanan cairan pada otak. Pendarahan pada jaringan otak dapat menyebabkan kematian.

3. Sakit kepala paling parah yang belum pernah dirasakan sebelumnya

Sakit kepala biasa sudah cukup menyakitkan. Tapi jika mengalami sakit kepala yang dirasa paling buruk dari yang sudah pernah dialami sebelumnya, itu bisa jadi pertanda aneurisma.

Aneurisma adalah bocor atau pecahnya pembuluh darah pada otak. Rembesan darah yang membasahi otak menyebabkan pasien hanya mengeluh pusing. Namun lama-kelamaan, rembesan darah dapat menjadi banjir darah di otak. Inilah yang menyebabkan penderitanya meninggal mendadak.

Bersumber dari : detik.com oleh Putro Agus Harnowo - detikHealth

Kamis, 22 Desember 2011

Sakit Kepala

Sakit kepala merupakan salah satu keluhan tersering yang menyebabkan anak dibawa ke dokter anak. Meskipun ada banyak sekali penyebab sakit kepala, tetapi kebanyakan sakit kepala pada anak umumnya ringan saja dan berdampak serius. Memang ada beberapa penyebab sakit kepala yang berat dan serius (seperti tumor otak), tetapi sangat jarang. Penyebab paling sering pada anak adalah: stres karena sekolah, karena infeksi virus ringan, sinusitis, atau gangguan penglihatan.
 
Sakit kepala pada anak dapat dibedakan menjadi sakit kepala tension, migrain, atau melayang/sempoyongan. Sakit kepala tension dirasakan sebagai sakit kepala hampir di seluruh kepala dan kepala terasa berat. Sakit kepala migrain dirasakan hanya di satu sisi kepala saja dan berdenyut. Sakit kepala melayang/sempoyongan umumnya disebabkan oleh infeksi virus seperti ISPA, dsb. Permasalahan di sekolah seperti tahun ajaran baru, guru baru, teman baru, banyaknya pekerjaan sekolah dapat menjadi sebab sakit kepala pada anak.

Pengobatan sakit kepala yang ringan sebenarnya tidak terlalu sulit. Berikan anak istirahat atau tidur lebih lama dari biasanya, tanyakan adakah permasalahan yang dapat dibicarakan dengan Anda (bila anak sudah lebih besar), dan juga berikan kasih sayang yang lebih terlihat seperti memijit leher dan kepala anak. Bila sakit dirasakan cukup berat, dapat diberikan obat analgetik. Untuk sakit kepala pada anak pemberian sirup parasetamol biasanya sudah cukup bermanfaat.

Bawalah anak ke dokter anak bila:
  • Sakit kepala tidak menunjukkan perbaikan dalam 24 jam, atau bahkan memburuk.
  • Sakit kepala disertai mual, muntah
  • Sakit kepala disertai kejang
  • Ataupun ada gangguan penglihatan (seperti melihat blur atau double).
Bersumber dari : www.kiddiecarecentre.com