Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekolah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 22 Desember 2011

Sakit Kepala

Sakit kepala merupakan salah satu keluhan tersering yang menyebabkan anak dibawa ke dokter anak. Meskipun ada banyak sekali penyebab sakit kepala, tetapi kebanyakan sakit kepala pada anak umumnya ringan saja dan berdampak serius. Memang ada beberapa penyebab sakit kepala yang berat dan serius (seperti tumor otak), tetapi sangat jarang. Penyebab paling sering pada anak adalah: stres karena sekolah, karena infeksi virus ringan, sinusitis, atau gangguan penglihatan.
 
Sakit kepala pada anak dapat dibedakan menjadi sakit kepala tension, migrain, atau melayang/sempoyongan. Sakit kepala tension dirasakan sebagai sakit kepala hampir di seluruh kepala dan kepala terasa berat. Sakit kepala migrain dirasakan hanya di satu sisi kepala saja dan berdenyut. Sakit kepala melayang/sempoyongan umumnya disebabkan oleh infeksi virus seperti ISPA, dsb. Permasalahan di sekolah seperti tahun ajaran baru, guru baru, teman baru, banyaknya pekerjaan sekolah dapat menjadi sebab sakit kepala pada anak.

Pengobatan sakit kepala yang ringan sebenarnya tidak terlalu sulit. Berikan anak istirahat atau tidur lebih lama dari biasanya, tanyakan adakah permasalahan yang dapat dibicarakan dengan Anda (bila anak sudah lebih besar), dan juga berikan kasih sayang yang lebih terlihat seperti memijit leher dan kepala anak. Bila sakit dirasakan cukup berat, dapat diberikan obat analgetik. Untuk sakit kepala pada anak pemberian sirup parasetamol biasanya sudah cukup bermanfaat.

Bawalah anak ke dokter anak bila:
  • Sakit kepala tidak menunjukkan perbaikan dalam 24 jam, atau bahkan memburuk.
  • Sakit kepala disertai mual, muntah
  • Sakit kepala disertai kejang
  • Ataupun ada gangguan penglihatan (seperti melihat blur atau double).
Bersumber dari : www.kiddiecarecentre.com

Kamis, 01 Desember 2011

Anemia Defisiensi Besi

Anemia defisiensi besi (fe) masih merupakan masalah kesehatan yang sering dijumpai, terutama di Negara berkembang. Hampir 50% anak serta sebagian besar ibu hamil di Negara berkembang mengalami anemia karena kekurangan zat besi. Penyebab anemia defisiensi besi pada anak dapat berupa: pemasukan zat besi yang kurang, pengeluaran zat besi yang berlebihan, atau karena sebab lain (cacing, lahir dari ibu dengan kadar besi yang rendah). Zat besi (fe) digunakan oleh tubuh untuk mengangkut oksigen dalam darah dan juga untuk membentuk sel darah merah (eritrosit).

Anak dengan anemia defisiensi besi akan terlihat letih, lesu, lemas, pucat, dan tidak bersemangat sama sekali serta sering mengantuk. Pada akhirnya hal ini akan mengakibatkan gangguan terutama untuk belajar di sekolah. Bahkan ada beberapa penelitian yang mengaitkan anemia defisiensi besi dengan penurunan IQ (tingkat kecerdasan anak). Untuk memastikan apakah anak menderita anemia defisiensi besi maka selain tanda dan gejala di atas juga diperlukan pemeriksaan lainnya (laboratorium), seperti misalnya mengukur kadar Hb, Fe, atau Feritin.

Anak yang sudah terbukti mengalami anemia defisiensi besi perlu mendapat terapi yang tepat dari dokter. Selain pemberian suplemen besi tambahan (dalam bentuk tablet ataupun sirup), dokter juga akan menganjurkan konsumsi makanan yang mengandung besi (fe) dalam jumlah yang cukup tinggi. Makanan tersebut di antaranya adalah: ikan, telur, daging sapi, ayam, bayam, brokoli dan hati.

Bersumber dari : www.kiddiecarecentre.com

Senin, 24 Oktober 2011

Nah Lho...Cacingan Bisa Turunkan Prestasi Anak Lho

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia mengajak masyarakat mewaspadai penyakit cacingan atau penyakit infeksi yang disebabkan oleh cacing. "Masyarakat harus mewaspadai cacingan karena masih banyak yang belum mengetahui bahayanya khususnya bagi anak-anak," kata Kepala Departemen Parasitologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Saleha Sungkar pada acara Seminar Edukasi Waspada Infeksi Cacingan di Gedung YTKI Jalan Gatot Subroto Jakarta, Rabu.

Saleha menjelaskan, cacingan bisa menyebabkan infeksi usus yang membuat seorang anak mengalami kurang protein, kurang gizi, dan kurang darah. "Akibatnya bisa terjadi penurunan prestasi pada anak di sekolah," katanya.

Kondisi tersebut menurut Saleha sungguh memprihatinkan karenanya para orang tua harus mewaspadai penyakit cacingan. Secara teknis dia juga menyebutkan, ada berbagai jenis cacing yang bisa menyebabkan penyakit di antaranya cacing gelang, cacing cambuk, cacing tambang dan cacing kremi.

Penularan penyakit cacingan juga beragam, di antaranya bersentuhan langsung dengan seseorang yang sudah cacingan, atau bersentuhan dengan permukaan benda seperti kran air, pegangan pintu, pensil, buku dan lain sebagainya yang sebelumnya sudah dipegang orang yang cacingan.

Untuk itu, dia menjelaskan sejumlah cara untuk mengatasi cacingan yakni dengan memeriksa tinja secara periodik setiap enam bulan sekali.

Selain itu meminum obat cacing dan menjaga kebersihan diri, makanan dan lingkungan. "Mencegah cacingan dengan menjaga kebersihan diri, makanan dan lingkungan sementara mengatasi dengan memberi obat yakni dalam bentuk 'abendazole dan pyrantel pamoat' bila hasil pemeriksaan tinja terdapat telur cacing," katanya.

Dengan melakukan berbagai upaya pencegahan dan penanggulangan maka bisa menghindari berbagai bahaya yang ditimbulkan oleh penyakit cacingan.
"Jangan dianggap remeh karena penyakit tersebut berbahaya bagi kesehatan," katanya.