Tampilkan postingan dengan label demam berdarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label demam berdarah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 Februari 2012

Waspadai Berbagai Penyakit di Musim Pancaroba

Bandung - Waspadai berbagai penyakit di musim pancaroba seperti saat ini. Sebab sejumlah penyakit rawan menyerang siapapun di tengah kondisi cuaca yang tidak mengenakan.

Menurut Dirut RS Hasan Sadikin (RSHS) Bayu Wahyudi, ada beberapa penyakit yang harus diwaspadai di musim pancaroba. Beberapa penyakit itu di antaranya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, influenza, batuk hingga demam berdarah dengue (DBD).

"Dengan kondisi cuaca seperti saat ini, tubuh memang rentan terhadap penyakit-penyakit tersebut," kata Bayu kepada detikbandung di ruang kerjanya, Jumat (17/2/2012).

Hingga saat ini, warga yang datang memeriksakan diri ke RSHS mengalami peningkatan, khususnya pasien yang terserang DBD. "Sekarang sudah mulai ada peningkatan, tapi belum dan mudah-mudahan tidak banyak," ungkapnya.

Sebagai langkah antisipasi, Bayu mengimbau masyarakat untuk waspada. Beberapa langkah bisa dilakukan untuk mencegah penyakit-penyakit tersebut menyerang.

"Antisipasinya, yang jelas harus menjalankan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), istirahat yang cukup, jangan terlalu kecapekan, kalau bisa ditambah olahraga," imbau Bayu.

(ors/ors)

Bersumber dari : Oris Riswan Budiana - detikBandung

Selasa, 14 Februari 2012

Orang Bisa Kena Demam Berdarah Minimal 4 Kali

Jakarta, Demam berdarah dengue (DBD) disebabkan oleh virus yang dibawa nyamuk. Saat terinfeksi maka tubuh akan membentuk antibodi untuk melawannya. Tapi bisakah orang yang sudah pernah DBD terkena lagi?

"Kalau sudah kena sekali DBD maka ia belum kebal, karena virus DBD ada 4 jenis yaitu DEN-1, 2, 3 dan 4. Jadi kita bisa kena DBD 4 kali," ujar Dr Leonard Nainggolan, SpPD-KPTI dalam acara Pocari Sweat conference 2012 'Edukasi Masyarakat Mengenai Pentingnya Cairan dan Ion untuk Jaga Kesehatan Sehari-hari' di Hotel Le Meridien, Jakarta, Minggu (12/2/2012).

Dr Leonard menuturkan meski sudah terkena 4 kali DBD dengan virus yang berbeda-beda, tapi tidak ada yang bisa memberikan jaminan aman absolut bahwa ia tidak akan terkena DBD lagi. Hal ini karena antara virus DEN-1 Indonesia misalnya dengan DEN-1 Kuba berbeda, sehingga antibodi yang terbentuk juga berbeda.

"Sekarang transportasi sudah sangat hebat, jadi enggak bisa make sure steril atau bebas dari DBD terlebih jika ia pergi ke luar negeri. Tapi kemungkinan kena laginya jauh lebih kecil, karena antibodi untuk keempat virus itu sudah ada," ujar Dr Leonard yang merupakan ahli penanganan demam berdarah dan penyakit infeksi tropik dari FKUI.

Kapan seseorang dicurigai terkena demam berdarah dengue?

Berdasarkan WHO dan Kemenkes, seseorang dicurigai DBD jika ia mengalami:

  1. Demam mendadak ditambah 2 gejala dibawah ini
  2. Sakit kepala
  3. Nyeri di belakang mata
  4. Nyeri otot
  5. Nyeri tulang
  6. Ruam (bercak merah) di kulit
  7. Tanda perdarahan
  8. Leukosit atau sel darah putihnya rendah
  9. Uji tes serologi dengue positif
  10. Ada tetangga yang diketahui positif DBD

"Demam mendadak ini misalnya pagi harinya ia masih terlihat baik-baik saja, tiba-tiba besoknya mengalami demam. Apalagi kalau demam disertai dengan gejala yang muncul banyak," ujar dokter kelahiran pemantang siantar, 15 Februari 1969.

Sementara itu perdarahan yang muncul bisa hanya terjadi di bawah kulit (muncul bintik-bintik merah) sampai muntah darah atau mimisan, tergantung dari seberapa banyak cairan yang keluar dari pembuluh darah akibat kebocoran.

"Untuk diagnosis DBD bisa dilakukan dengan melakukan tes IgG/IgM dan tes NS1. Kalau ditanya yang mana yang paling akurat, jawabannya dua-duanya, tapi waktunya yang harus dilihat. Jika demam baru 2 hari maka tes NS1, tapi kalau demam hari kelima maka tes IgG/IgM," ungkapnya.

Hal ini karena untuk tes IgG/IgM berfungsi mendeteksi antibodi yang terbentuk di dalam tubuh. Antibodi ini baru terbentuk setelah demam hari ketiga dan alat baru bisa mendeteksi pada hari kelima ketika jumlah antibodi sudah mencapai angka tertentu.

Sedangkan tes NS1 digunakan untuk mendeteksi bagian virus apakah ada di dalam tubuh atau tidak, tes ini sudah bisa dilakukan sejak hari pertama demam. Karena itu harus dilihat terlebih dahulu waktunya, sudah berapa hari demam yang dialaminya.

Fase demam berdarah ini ada masa inkubasi sekitar 5-9 hari mulai dari infeksi sampai timbul gejala, lalu fase akut yang mana sudah muncul gejala sekitar 1-3 hari dan pada hari ke 4-6 merupakan fase kritis. Saat itulah terjadi kebocoran pembuluh darah kapiler.

Jika pasien DBD mengalami kedaruratan seperti syok, kejang, kesadaran menurun dan perdarahan maka harus dirawat di rumah sakit. Tapi jika masih bisa makan dan minum dengan baik serta tidak ada kegawatdaruratan maka bisa rawat jalan sambil tetap minum yang banyak, obat untuk mengatasi gejala dan monitor pemeriksaan laboratorium untuk hemoglobin, hematokrit, leukosit dan trombosit.

"Karena belum ada vaksin atau obat untuk membunuh virus, maka pengandalian lingkungan dan perilaku penting, salah satunya dengan mencegah genangan air terutama saat musim hujan, karena satu tetes genangan air saja bisa menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk," ujar Dr Leonard yang juga menjadi konsultan tim ahli demam berdarah Kemenkes RI.

(ver/ir) 

Bersumber dari : Vera Farah Bararah - detikHealth

Senin, 16 Januari 2012

Cegah DBD Dengan Nyamuk Steril

Cegah DBD Dengan Nyamuk Steril  
Washington - Para ilmuwan Amerika Serikat saat ini tengah mengembangkan teknologi rekayasa genetika untuk membasmi nyamuk penyebab demam berdarah di Kepulauan Cayman, dimana prevalensi penyakit DBD di kepulauan ini dilaporkan sangat tinggi.

Uji coba ini adalah yang pertama kali dilakukan di alam terbuka, setelah selama beberapa tahun dikembangkan dalam skala laboratorium dengan sejumlah hitung-hitungan kalkulasi.

Andrew Read,  profesor biologi dan entomologi di Pennsylvania State University mengatakan,"Uji coba lapangan ini akan menjadi sebuah lompatan besar, langkah untuk meniadakan serangka yang menjadi perantara penyakit, sangat menguntungkan bagi kehidupan."

Penyakit demam berdarah dimulai dari gigitan seekor nyamuk yang terinfeksi, lalu menyebabkan demam, sakit pada persendian, dan berujung pada pecahnya membuluh darah.

Menurut data WHO, sebanyak 2,5 miliar warga dunia berada dalam risiko demam berdarah, dan setidaknya 50 juta kasus ditemukan tiap tahun, namun hingga saat ini, belum ada vaksin yang mampu mencegahnya. Hal ini berbeda dengan malaria, karena kejadian luar biasa pada demam berdarah tak bisa diprediksi.

Peneliti di Oxitec Limited menerangkan sistem kerja nyamuk anti-demam berdarah ini yakni dengan merekayasa nyamuk jantan menjadi steril dengan memanipulasi susunan DNA-nya.

Di kepulauan Cayman ini, peneliti melepaskan 3 juta nyamuk jantan untuk menemui betina dari jenis yang sama. Perkawinan keduanya tak akan menghasilkan keturunan. Sebagai info, nyamuk pengisap darah hanyalah nyamuk betina yang tengah hamil.

kemudian selama sepekan, para ilmuwan melepaskan nyamuk secara bertahap sebanyak tiga kali di area seluas 40 acre.

Di gugusan Kepulauan Karibia ini, demam berdarah memang tengah mewabah, sehingga diharapkan, nyamuk mandul ini akan mampu menekan kasus demam berdarah hingga 80 persen.

Namun langkah ini ditentang oleh sebagian besar aktivis lingkungan, karena mereka mengkhawatirkan akan lahir bentuk baru dari nyamuk mutan, hasil mutasi gen yang tak dikehendaki yang malah justru akan membahayakan manusia dan lingkungannya.(abi)


Bersumber dari: www.wartanews.com