Bandung - Waspadai berbagai penyakit di musim pancaroba seperti saat ini. Sebab sejumlah penyakit rawan menyerang siapapun di tengah kondisi cuaca yang tidak mengenakan.
Menurut Dirut RS Hasan Sadikin (RSHS) Bayu Wahyudi, ada beberapa penyakit yang harus diwaspadai di musim pancaroba. Beberapa penyakit itu di antaranya infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare, influenza, batuk hingga demam berdarah dengue (DBD).
"Dengan kondisi cuaca seperti saat ini, tubuh memang rentan terhadap penyakit-penyakit tersebut," kata Bayu kepada detikbandung di ruang kerjanya, Jumat (17/2/2012).
Hingga saat ini, warga yang datang memeriksakan diri ke RSHS mengalami peningkatan, khususnya pasien yang terserang DBD. "Sekarang sudah mulai ada peningkatan, tapi belum dan mudah-mudahan tidak banyak," ungkapnya.
Sebagai langkah antisipasi, Bayu mengimbau masyarakat untuk waspada. Beberapa langkah bisa dilakukan untuk mencegah penyakit-penyakit tersebut menyerang.
"Antisipasinya, yang jelas harus menjalankan pola hidup bersih dan sehat (PHBS), istirahat yang cukup, jangan terlalu kecapekan, kalau bisa ditambah olahraga," imbau Bayu.
(ors/ors)
Bersumber dari : Oris Riswan Budiana - detikBandung
Tampilkan postingan dengan label Hemophilus influenza. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hemophilus influenza. Tampilkan semua postingan
Minggu, 19 Februari 2012
Rabu, 25 Januari 2012
Influenza VS Common Cold
Anak-anak, terutama anak yang masih kecil (di bawah 5 tahun) seringkali mengeluh batuk, pilek, dan demam. Orangtua pun seringkali mengatakan anaknya menderita flu. Sebenarnya ada 2 istilah yang umum digunakan untuk menggambarkan penyakit dengan keluhan batuk,pilek dan demam yaitu common cold dan Influenza. Kedengarannya sama, tetapi sebenarnya kedua penyakit ini berbeda. Common cold adalah batuk pilek biasa, sedangkan Influenza lebih berat tanda dan gejalanya.
Berikut ini diberikan tabel perbedaan antara Common cold dan Influenza:
Bersumber dari : www.kiddiecarecentre.com
Berikut ini diberikan tabel perbedaan antara Common cold dan Influenza:
| Perbedaan | Common Cold | Influenza |
| Penyebab | Lebih dari 200 jenis virus dapat menyebabkan Common cold, tetapi yang tersering adalah rhinovirus, coronavirus dan RSV (respiratory syncytial virus). | Virus influenza. Golongan ini dinamakan dengan serotipe tertentu seperti H1N1, H3N2, H5N1, dsb. Yang sekarang terkenal adalah Influenza A H1N1 |
| Penularan | Menular dari satu orang ke orang lainnya melalui droplet air liur sewaktu batuk atau bersin atau berkomunikasi. | Dapat ditularkan manusia ke manusia atau bahkan hewan ke manusia (contohnya flu burung). Cara penularan biasanya melalui kontak langsung ataupun melalui droplet (berbeda-beda antara serotipe). |
| Tanda dan Gejala | Batuk pilek biasa, demam yang ringan atau kadang tidak ada demam, hidung berair atau hidung mampat. | Tanda dan gejala lebih berat, batuk kering, pilek, demam lebih lama dan lebih tinggi disertai badan linu-linu dan lemas. |
| Pengobatan | Common cold dapat sembuh sendiri (self limiting disease). Perawatan cukup suportif dan simtomatik saja. Dapat dirawat di rumah saja. | Influenza memerlukan terapi anti virus tertentu (seperti misalnya tamiflu untuk flu A H1N1). Mungkin memerlukan perawatan di rumah sakit. |
| Lama sakit | Biasanya akan sembuh dalam waktu yang relatif cepat (umumnya 2-3 hari). | Relatif lebih lama (bahkan dapat lebih dari 1 minggu). |
| Komplikasi | Tidak menimbulkan komplikasi kesehatan apapun | Terkadang dapat menimbulkan komplikasi seperti radang paru-paru (pneumonia), atau infeksi sekunder oleh bakteri. |
| Pencegahan | Mencuci tangan sering-seringHindari orang yang sedang menderita common cold atau flu. Meningkatkan daya tahan, misalnya mengkonsumsi vitamin C. | Mencuci tangan sering-seringVaksin Influenza (untuk serotipe tertentu) |
Bersumber dari : www.kiddiecarecentre.com
Kamis, 17 November 2011
Saat Tepat Minum Antibiotik
Antibiotik adalah obat nomor dua paling sering digunakan setelah obat antidepresan. Namun juga paling sering disalahgunakan. Efeknya, selain merugikan buat si pasien, juga terjadi resistensi alias kuman tak mempan lagi yang akhirnya bisa berbahaya untuk kehidupan manusia.Kuman penyebab infeksi telinga tengah seperti Streptoccocus pneumoniae, Hemophilus influenza, dan Moraxella catarrhalis dikatakan banyak yang tak mempan lagi akibat pemakaian antibiotik yang berlebihan. Belum lagi pemakaian antibiotik yang bisa membunuh banyak kuman atau mahal dengan alasan tak jelas, menambah rentetan masalah akibat antibiotik.
Bersumber dari : www.anakku.net
Gunakan secara rasional
Setiap kali kita membaca kemasan antibiotik, selalu tercantum tulisan “Harus dengan resep dokter”. Mengapa? Karena keputusan untuk menggunakan antibiotik tak sembarangan dan hanya bisa dilakukan oleh orang yang tepat. Setelah memutuskan menggunakan antibiotik, selanjutnya dipilih jenis yang paling sesuai dengan mempertimbangkan; efektivitas,
keamanan, kenyamanan, kecocokan, serta harga. Terutama untuk anak-anak, antibiotik perlu diberikan secara hati-hati karena mereka masih dalam tumbuh kembang.
keamanan, kenyamanan, kecocokan, serta harga. Terutama untuk anak-anak, antibiotik perlu diberikan secara hati-hati karena mereka masih dalam tumbuh kembang.
Bagaimana antibiotik digunakan?
Secara umum, antibiotik digunakan untuk tiga kepentingan, yaitu terapi empiris, definitif, dan pencegahan.
Empiris
Pemberian antibiotik secara empiris biasanya merupakan terapi awal sebelum data laboratorium ada, dan ini yang paling sering dilakukan. Tentunya harus diberikan dengan banyak pertimbangan berdasarkan educated guess (dugaan berbasis pengetahuan). Jadi, dokter menyimpulkan dari gambaran penyakit tertentu yang mengarah pada kuman tertentu. Misalnya; infeksi kulit paling sering disebabkan kuman stafilokokus atau streptokokus, sedangkan infeksi saluran kemih didominasi kuman gram negatif seperti E. coli, Enterobakter, dan golongan Proteus. Kuman Hemophilus influenza dan morazella sering ditemukan pada radang telinga tengah dan sinusitis (radang sinus).
Pemberian antibiotik secara empiris dilakukan sesuai dengan kuman terbanyak yang ada di daerah tersebut yang diperoleh dari penelitian.
Pemberian antibiotik secara empiris dilakukan sesuai dengan kuman terbanyak yang ada di daerah tersebut yang diperoleh dari penelitian.
Definitif
Terapi definitif dilakukan setelah kuman ditemukan lewat biakan kuman atau uji kepekaan. Antibiotik yang dipilih idealnya dapat membunuh bakteri penyebab, tepat sasaran, bisa ditoleransi pasien, dengan mempertimbangkan umur anak, keadaannya, adanya penyakit atau
komplikasi, fungsi ginjal, hati, dan sebagainya. Terapi ini memang ideal namun kelemahannya adalah faktor waktu. Biakan kuman dan uji kepekaan membutuhkan waktu 3-7 hari dan ini menyulitkan terutama pada infeksi yang berat.
komplikasi, fungsi ginjal, hati, dan sebagainya. Terapi ini memang ideal namun kelemahannya adalah faktor waktu. Biakan kuman dan uji kepekaan membutuhkan waktu 3-7 hari dan ini menyulitkan terutama pada infeksi yang berat.
Terkadang dokter memberikan kombinasi dua antibiotikdengan tujuan mengobati infeksi yang belum jelas kuman penyebabnya, infeksi multipel, serta meningkatkan aktifitas obat dan untuk mencegah resistensi. Tapi cara ini tidak dianjurkan untuk pemakaian antibiotik jangka lama.
Profilaksis (pencegahan)
Pada keadaan tertentu antibiotik digunakan untuk mencegah penyakit. Biasanya digunakan pada infeksi saluran kemih berulang, pasien dengan transplantasi organ tubuh atau pasien dalam kemoterapi maupun tindakan bedah.
Untuk anak yang sakit dan datang ke praktek dokter, pengobatan antibiotik kebanyakan diberikan secara empiris. Selain karena sulit mengontrol apakah si anak akan kembali ke dokter yang sama, juga dibatasinya waktu untuk mendiagnosis penyakit. Biasanya yang tersulit adalah menentukan penyebab virus atau bakteri terutama pada infeksi saluran napas yang
mencakup organ telinga, hidung, dan tenggorokan, serta saluran napas bawah, demikian juga infeksi saluran cerna.
mencakup organ telinga, hidung, dan tenggorokan, serta saluran napas bawah, demikian juga infeksi saluran cerna.
Penyakit yang sering dikaitkan dengan penggunaan antibiotik.
Faringitis akut
Faringitis akut atau radang faring akut sebagian besar disebabkan virus, sedangkan jenis bakterinya antara lain streptokokus beta hemolitikus grup A, streptokokus grup C, kuman anaerob dan campuran berbagai kuman. Sulit membedakan apakah penyebabnya virus atau bakteri, namun kebanyakan faringitis akut akan sembuh sendiri.
Kuman streptokokus beta hemolitikus grup A bila dibiarkan dapat menyebabkan penyakit berbahaya, jadi pada kasus ini antibiotik perlu diberikan. Gejalanya; plak pada amandel anak, kelenjar getah bening leher bagian depan membengkak, tidak disertai batuk, dan suhu meningkat hingga 380C.
Bila ditemukan tiga dari empat gejala tersebut, kemungkinan penyebab kuman itu mencapai 75 persen. Antibiotik yang diberikan antara lain golongan penisilin V diminum sepuluh hari atau Benzathine penicilin G disuntikkan satu kali. Pilihan obat lain yang bisa digunakan adalah Eritromisin. Faringitis akut yang lain cukup diobati dengan obat pereda gejala (simptomatik).
Bila ditemukan tiga dari empat gejala tersebut, kemungkinan penyebab kuman itu mencapai 75 persen. Antibiotik yang diberikan antara lain golongan penisilin V diminum sepuluh hari atau Benzathine penicilin G disuntikkan satu kali. Pilihan obat lain yang bisa digunakan adalah Eritromisin. Faringitis akut yang lain cukup diobati dengan obat pereda gejala (simptomatik).
Otitis media akut (radang telinga tengah)
Otitis media akut (OMA) sering ditemukan pada anak usia 7 bulan – 3 tahun. Penyebabnya bakteri dan virus. Biasanya didahului oleh infeksi saluran napas atas seperti batuk pilek. Gejalanya gendang telinga membenjol, ada cairan keruh di rongga telinga tengah. Kecurigaan bisa bertambah pada anak yang orangtuanya perokok, menggunakan dot atau empeng, atau
dititipkan di Tempat Penitipan Anak. Gejalanya mendadak dengan keluhan sakit telinga dan keluar cairan dari telinga. Bila diperiksa, membran timpani tampak berwarna kuning atau kemerahan serta ada cairan di rongga telinga tengah.
dititipkan di Tempat Penitipan Anak. Gejalanya mendadak dengan keluhan sakit telinga dan keluar cairan dari telinga. Bila diperiksa, membran timpani tampak berwarna kuning atau kemerahan serta ada cairan di rongga telinga tengah.
Umumnya OMA sembuh tanpa antibiotik, namun masih banyak dokter meresepkan antibiotik. Alasan tersering adalah orangtua minta antibiotik.
Banyak orangtua tidak sabar menunggu hasil terapi simptomatik dan tidak tega melihat anaknya gelisah akibat penyakitnya.
Banyak orangtua tidak sabar menunggu hasil terapi simptomatik dan tidak tega melihat anaknya gelisah akibat penyakitnya.
Jika pun harus diberikan antibiotik, pilihan pertama adalah obat turunan penisilin, sefalosporin, kotrimoksazol, dan makrolid. Ada pula dokter yang menunggu hingga 2-4 hari untuk melihat
perkembangan penyakitnya. Kecuali, untuk anak di bawah usia 6 bulan, antibiotik wajib diberikan meski diagnosis belum tepat benar.
perkembangan penyakitnya. Kecuali, untuk anak di bawah usia 6 bulan, antibiotik wajib diberikan meski diagnosis belum tepat benar.
Rinosinositis akut (radang sinus dan hidung)
Sinusitis adalah peradangan sinus hidung yang hampir selalu berawal atau dimulai dengan radang hidung (rinitis) alias pilek.
Sinusitis yang disebabkan bakteri sering didahului oleh infeksi virus, tetapi dapat pula menyertai kondisi lain seperti alergi hidung, kelainan anatomi hidung, polip, daya tahan kurang, rinitis karena obat, atau ada fungsi lapisan hidung yaitu mukosiliar yang terganggu.
Sinusitis yang disebabkan bakteri sering didahului oleh infeksi virus, tetapi dapat pula menyertai kondisi lain seperti alergi hidung, kelainan anatomi hidung, polip, daya tahan kurang, rinitis karena obat, atau ada fungsi lapisan hidung yaitu mukosiliar yang terganggu.
Kuman yang sering menyebabkan sinusitis adalah Streptoccocus pneumoniae dan Hemophilus influenza, dapat pula Morazella catarrhalis, Staphyloccocus aureus, kuman anaerob ataupun virus, jarang oleh jamur. Gejalanya mirip batuk pilek biasa disertai hidung mampet, lendir di tenggorokan, nyeri pada wajah. Diagnosisnya tidak mudah dan kuman penyebab sering berbarengan antara virus dan bakteri. Namun, cairan hidung yang kental
dan keruh disertai gejala batuk pilek yang mulai menyembuh tapi menjadi berat lagi lebih mengarah pada infeksi bakterial.
dan keruh disertai gejala batuk pilek yang mulai menyembuh tapi menjadi berat lagi lebih mengarah pada infeksi bakterial.
Bagaimana pemberian antibiotik? Banyak kasus sembuh sendiri tanpa pemberian antibiotik. Dengan atau tanpa antibiotik, kasus rinosinusitis membaik dalam 7 -10 hari. Bila 7-11 hari belum ada perbaikan, antibiotik dapat diberikan. Pilihannya adalah penisilin, makrolid, sefalosporin, dan kotrimoksazol. Antibiotika harus diminum selama 7-14 hari tetapi ada yang
mengatakan hingga 21 hari. Obat Antihistamin dan dekongestan atau kombinasinya
serta pengencer dahak masih diragukan efektivitasnya namun cukup melegakan.
mengatakan hingga 21 hari. Obat Antihistamin dan dekongestan atau kombinasinya
serta pengencer dahak masih diragukan efektivitasnya namun cukup melegakan.
Infeksi lain
Infeksi seperti infeksi kulit dan jaringan lunak, pneumonia atau radang paru-paru, infeksi saluran cerna, infeksi saluran kemih perlu juga mempertimbangkan apakah bakteri adalah biang keladi di balik semua itu.
Referensi:
- Centers for disease control and prevention (CDC) media relation. Global
resistance to antibiotics. From the NIH, Spetember 17, 2003. - Froom J, Culpepper L, Jacobs M. Antimicrobial for acute otitis media? A
review from the international primary care network. Brit Med J 1997;315:98-102 - Steinman MA,Gonzales R, Lindr JA, Landefelt CS. Changing use of antibiotics
in community-based outpatient practice. Arch Intern Med. 2003;138:525-33
Bersumber dari : www.anakku.net
Langganan:
Postingan (Atom)